Rabu, 05 Maret 2014

Rindu; Lawan Dicintai

Saat ini, aku bernaung gelap melawan kesepian dan rindu yang selalu menjagakku untuk membunuhnya.  Dalam sekilas, aku murung dengan segala pikiran kacau, namun hati tetap pada seorang dicinta. Pada masa yang entah kapan hadir, aku bahagia melihatmu di dalam imajinasiku, qalbu ku sebut namamu.
 
Acap kali rindu membuat rasa marah, sebab ini waktu bukanlah tepat untuk suatu ditunggu. Belajar bersabar dan ikhtiar menahan segala yang dimaksud pikiran melainkan hati, perasaan tersebut tumbuh dengan sendirinya sejak memandangmu pertama, ya! Aku ingin mengisahkannya berulangkali, karena menanti itu seperti sajak lisan; terucap dan berbeda kemudian tulisan.
 
Dalam sepi, aku kembali mencoba menjadi seorang pujangga berusaha sebagai Raja Sulaiman yang kaya, bak Yusuf yang tampan, walau semua sangat berbeda jauh dikenyataan hidup. Aku adalah seorang biasa, tidak hebat, tapu nekad mampu bahkan berani untuk mencintaimu.
 
Tetap pada rindu yang ingin kuuraikan dengan sederhana, aku seperti kehabisan akal bertanya-tanya sendiri “mengapa rindu begitu setia mengahampiri”. Inilah kenyataannya cerita, bahwa aku benar mencintaimu. Setiap tangan kutadahkan menghadap kiblat, di situ selalu terselib lantunan cinta untukmu, aku memohon padaNya.
 
Seperti kehabisan tinta pada pena ini, dalam imajinasiku kau bak bidadari, tapi untuk memujimu langsung aku harus menyimpan berjuta-juta keberanian, aku malu bahkan padaNya, aku takut cinta ini berlebihan, aku takut hela pada segala keadaan, aku takut yang sesungguh dicinta tak hirau lagi, sebab itu aku kerap memohon agar jalan kecintaan ini ditunjuki, dan hari tersebut benar-banar hadir lalu satu doaku terkabul.

Aku semakin yakin dalam hati, qalbu; penyejuk jiwa. Sampai rindu kadang tak bisa kukendalikan dengan jasad kotor ini, tanpa menyebut AsmaNya aku tak berani menyebut namamu, tapi tetap saja aku merindu.

Rahmatsyah
Kegelapan, 23:39, 05/03/14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar