Senin, 23 Juni 2014

“TAARE ZAMEEN PAR”



 Oleh: Endang Rizeki

            Berdasarkan analisis film yang telah dilakukan dengan judul “Taare Zameen”  menceritakan seorang anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Adapun pusat dalam analisis film ini ditunjukkan kepada seorang anak yang bernama Ishaan Awasthi yang berasal dari keluarga sederhana. Ishaan awasthi ini mempunyai seorang abang yang bernama Johan, kedua anak ini memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal belajar.
Ishsaan Awasthi adalah seorang anak laki-laki berumur 9 tahun tepatnya ia duduk dikelas 3 Sekolah Dasar yang terkena gejala “Disleksia”. Adapun gejala disleksia yang timbul pada Ishaan adalah kesulitan untuk mengucapkan kata-kata atau kesulitan dalam mengeja, menulis, dan ketidakmampuan untuk tampil dengan baik dalam mengerjakan soal matematika. Kesulitan Ishaan dalam mengenali kata-kata seperti huruf “b” ditulis “d” ini selalu dibuat terbalik. Selain itu, Ishaan juga mengalami kesulitan untuk memahami instruksi baik dari ibunya maupun dari guru disekolah. Misalnya, Ketika Ishaan pulang sekolah ibu menyuruh Ishaan untuk menyimpan tas di kamarnya, menganti pakaian, mencuci kaki dan tangan ketika mau makan,  maka Ishaan tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya. Meski demikian, Ishaan memiliki tingkat kecerdasan normal atau kecerdasan di atas rata-rata. Kecerdasan yang dimiliki Ishaan adalah kecerdasan spasial (Picture Smart). Ishaan sangat mahir dalam melukis, akan tetapi orang tua ihsan tak menyadari bahwa disamping kelemahan Ishaan dalam belajar ia juga memiliki kemampuan yang unik dalam melukis.
Ketika Ishaan berada disekolah ia tak pernah fokus dengan mata pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, sehingga Ishaan menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Tingkat kefokusan Ihsaan dalam belajar dipengaruhi oleh ketidakpahamannya dalam mengenali huruf sehingga menyebabkan kesukaran Ishaan dalam membaca. Kekurangan yang dimiliki oleh Ihsaan ini terus menjadi permasalah disekolahnya. Permasalahan ketika Ishaan sulit untuk menyelesaikan soal matematika dan mata pelajaran lainnya ketika ujian yang menyebabkan Ishaan tidak naik kelas. Mendengar permasalahan Ishaan tidak naik kelas maka orang tua Ishaan memutuskan untuk mengirim Ishaan ke sekolah asrama.
Disekolah asrama Ishaan yang baru ia merasa tertekan, tidak banyak berkomunikasi, sering menyendiri dan tidak memiliki kepercayaan diri bahwa dia memiliki kemampuan dalam bidang seni, harapan Ishaan putus ketika tidak ada seseorang yang memotivasi ia dalam belajar. Hal tersebut terjadi akibat perlakuan guru terhadap Ishaan yang memvonisnya begitu dalam sehingga hati Ishaan merasa tertekan. Seiring berjalannya waktu Ishaan menjalani sekolahnya seperti biasa, disamping itu Ishaan menemukan seorang guru yang bernama “Ram Shankar Nikumb”. Pertemuan Ishaan dengan guru barunya itu awalnya tidak menimbulkan respon apa pun, akan tetapi ketika gurunya mengetahui bahwa Ishaan terkena gejala “Disleksia” gurunya ini berusaha untuk mengubah Ishaan dalam kesulitan mengenal huruf. Ketika Ishaan usai sekolah, ia mendapatkan pelatihan khusus untuk belajar dengan gurunya yaitu Nikumb. Ketika Ishaan belajar membaca dan  menulis, ketertekanan hati Ishaan dalam belajar tidak lagi terlihat sebab perlakuan gurunya begitu sabar. Ishaan sudah mulai mengenali huruf dengan baik, menulis dengan teratur, membaca dan mampu menyelesaikan soal matematika dengan benar. Selain itu, Ishaan juga mendapatkan juara pertama dalam bidang seni lukis, karya lukis yang dibuat oleh Ishaan ini dijadikan sebagai sampul depan disekolahnya. Ini adalah kebanggaan yang besar bagi orangtua dan pihak sekolah terhadap perubahan yang di alami oleh Ishaan. Selama ini orangtua Ishaan berfikir bahwa ia malas untuk belajar dan mencari-cari alasan untuk tidak belajar, namun kenyataanya Ishaan memiliki kesulitan dalam membaca dan memahami huruf.
Gejala Disleksia yang dialami oleh Ishaan ini dapat teratasi dengan cara memberikan perhatian, motivasi, tidak mematahkan semangat, selalu ada apabila anak sangat membutuhkan kasih sayang, membebaskan anak dalam menentukan keinginanya, melatihnya dengan banyak menggunakan alat-alat peraga, memisahkan kata-kata yang sulit untuk dipahami dan adanya kerja sama antara orangtua dirumah dengan pihak guru disekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar