Oleh: Endang Rizeki
Berdasarkan
analisis film yang telah dilakukan dengan judul “Taare Zameen” menceritakan seorang anak yang mengalami
kesulitan dalam belajar. Adapun pusat dalam analisis film ini ditunjukkan
kepada seorang anak yang bernama Ishaan Awasthi yang berasal dari keluarga
sederhana. Ishaan awasthi ini mempunyai seorang abang yang bernama Johan, kedua
anak ini memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal belajar.
Ishsaan Awasthi adalah
seorang anak laki-laki berumur 9 tahun tepatnya ia duduk dikelas 3 Sekolah
Dasar yang terkena gejala “Disleksia”. Adapun gejala disleksia yang timbul pada
Ishaan adalah kesulitan untuk mengucapkan kata-kata atau kesulitan dalam
mengeja, menulis, dan ketidakmampuan untuk tampil dengan baik dalam
mengerjakan soal matematika. Kesulitan Ishaan dalam mengenali kata-kata seperti
huruf “b” ditulis “d” ini selalu dibuat terbalik. Selain itu, Ishaan juga
mengalami kesulitan untuk memahami instruksi baik dari ibunya maupun dari guru
disekolah. Misalnya, Ketika Ishaan pulang sekolah ibu menyuruh Ishaan untuk
menyimpan tas di kamarnya, menganti pakaian, mencuci kaki dan tangan ketika mau
makan, maka Ishaan tidak melakukan
seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh
perkataan ibunya. Meski demikian, Ishaan memiliki tingkat kecerdasan normal
atau kecerdasan di atas rata-rata. Kecerdasan yang dimiliki Ishaan adalah
kecerdasan spasial (Picture Smart). Ishaan sangat mahir dalam melukis, akan
tetapi orang tua ihsan tak menyadari bahwa disamping kelemahan Ishaan dalam
belajar ia juga memiliki kemampuan yang unik dalam melukis.
Ketika Ishaan berada disekolah ia
tak pernah fokus dengan mata pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, sehingga
Ishaan menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Tingkat kefokusan Ihsaan dalam
belajar dipengaruhi oleh ketidakpahamannya dalam mengenali huruf sehingga
menyebabkan kesukaran Ishaan dalam membaca. Kekurangan yang dimiliki oleh
Ihsaan ini terus menjadi permasalah disekolahnya. Permasalahan ketika Ishaan
sulit untuk menyelesaikan soal matematika dan mata pelajaran lainnya ketika
ujian yang menyebabkan Ishaan tidak naik kelas. Mendengar permasalahan Ishaan
tidak naik kelas maka orang tua Ishaan memutuskan untuk mengirim Ishaan ke
sekolah asrama.
Disekolah asrama Ishaan yang baru ia
merasa tertekan, tidak banyak berkomunikasi, sering menyendiri dan tidak
memiliki kepercayaan diri bahwa dia memiliki kemampuan dalam bidang seni,
harapan Ishaan putus ketika tidak ada seseorang yang memotivasi ia dalam
belajar. Hal tersebut terjadi akibat perlakuan guru terhadap Ishaan yang
memvonisnya begitu dalam sehingga hati Ishaan merasa tertekan. Seiring
berjalannya waktu Ishaan menjalani sekolahnya seperti biasa, disamping itu
Ishaan menemukan seorang guru yang bernama “Ram Shankar Nikumb”. Pertemuan
Ishaan dengan guru barunya itu awalnya tidak menimbulkan respon apa pun, akan
tetapi ketika gurunya mengetahui bahwa Ishaan terkena gejala “Disleksia”
gurunya ini berusaha untuk mengubah Ishaan dalam kesulitan mengenal huruf.
Ketika Ishaan usai sekolah, ia mendapatkan pelatihan khusus untuk belajar
dengan gurunya yaitu Nikumb. Ketika Ishaan belajar membaca dan menulis, ketertekanan hati Ishaan dalam
belajar tidak lagi terlihat sebab perlakuan gurunya begitu sabar. Ishaan sudah
mulai mengenali huruf dengan baik, menulis dengan teratur, membaca dan mampu
menyelesaikan soal matematika dengan benar. Selain itu, Ishaan juga mendapatkan
juara pertama dalam bidang seni lukis, karya lukis yang dibuat oleh Ishaan ini
dijadikan sebagai sampul depan disekolahnya. Ini adalah kebanggaan yang besar
bagi orangtua dan pihak sekolah terhadap perubahan yang di alami oleh Ishaan.
Selama ini orangtua Ishaan berfikir bahwa ia malas untuk belajar dan
mencari-cari alasan untuk tidak belajar, namun kenyataanya Ishaan memiliki
kesulitan dalam membaca dan memahami huruf.
Gejala Disleksia yang dialami oleh
Ishaan ini dapat teratasi dengan cara memberikan perhatian, motivasi, tidak
mematahkan semangat, selalu ada apabila anak sangat membutuhkan kasih sayang,
membebaskan anak dalam menentukan keinginanya, melatihnya dengan banyak
menggunakan alat-alat peraga, memisahkan kata-kata yang sulit untuk dipahami dan
adanya kerja sama antara orangtua dirumah dengan pihak guru disekolah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar