1. Latar Belakang
Penelitian
ini berkenaan dengan analisis amanat puisi-puisi karya Munir Mezyed.
Berdasarkan penelitian yang berkenaan dengan analisis amanat puisi-puisi karya Munir
Mezyed hanya pada bidang sastra, yaitu puisi. Puisi sebagai salah satu bagian karya
sastra membicarakan masalah dan bermacam aspek dari kehidupan manusia. Puisi
dapat menjadi sarana penting bagi manusia untuk mengenal pribadinya serta
lingkungannya, melalui karya sastra dapat digambarkan kebudayaan manusia,
tradisi berlaku, dan juga dan juga tingkat kehidupan yang telah dicapai oleh
masyarakat pada masa tertentu. Sastra menghubungkan kita secara mesra dengan
segala aspek kehidupan kita dengan nilai-nilai yang serbaneka, yang pada saat
tertentu bisa atau malah bisa dibisakan menimbulkan benturan-benturan sesuai
dengan muatan paham, doktrin, serta nilai-nilai yang serbaneka tadi (Ali
1976:18). Bahasa merupakan ungkapan hati dari penulis untuk mengutarakan
sesuatu dalam bahasa yang padat dan menggunakan diksi-diksi sehingga puisi
tersebut indah.
Puisi
salah satu karya sastra yang indah, jika puisi tersebut menggunakan diksi
imaji, maka pembaca akan mengutarakan makna tersendiri karena tersebut bisa
jadi mempunyai makna ganda. Puisi dapat membawa hati pembaca dalam karya
tersebut. Sastra lahir oleh dorongan manusia untuk mengungkapkan diri, tentang
masalah manusia, kemanusiaan, dan semesta. Selain sebagai sebuah karya seni
yang memiliki budi, imajinasi, dan emosi, sastra juga sebagai karya kreatif
yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan emosional. Sastra yang telah
dilahirkan oleh sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan
intelektual bagi pembaca.
Dalam
lirik modern konvensi keterjalinan antara kenyataan dan rekaan lain lagi
sifatnya. Culler dalam bukunya structuralist
Poetics, membicarakan secara sistematis dan mendalam “The Conventions of the lyric” bahwa puisi lirik pada satu pihak
mirip dengan kenyataan. Emosi yang
diungkapkan dalam bentuk aku, dalam rangka waktu kini dan tempat sini, dan
sekaligus secara konvensional pembaca tahu, diandaikan tahu bahwa secara
semiotik penafsiran harus melampaui batas keakuan, kekinian dan kesinian
penulis, yang menjadikan sajak penting sebagai puisi bukanlah informasi keakuan
dan kekinian seorang penyair yang bernaman Chairil Anwar secara nyata. Puisi
harus berisi kebenaran-kebenaran yang ada . masalah-masalah yang diangkat bukan
semata-mata masalah khayal belaka, melainkan masalah kebenaran yang terdapat di
dalam kehidupan pengarang dan masyarakat, sastra lahir dengan tema yang berkaitan
erat dengan kehidupan manusia.
Penelitian
ini dilakukan karena peneliti ingin menganalisis karya yang merupakan bukan
dari penulis Indonesia melainkan berasal dari Pelestina, hal ini menarik sebab
dua Negara yang mempunyai kultur berbeda, Indonesia adalah Negara Timur Tengah,
namun akibat pengaruh besar barat Indonesia dilihat dari beberapa sudut pandang
lebih kebarat-baratan dan karya sastra yang lahir dari penulis Indonesia lebih
membahas krtitikan kepada pemerintah, seperti yang kerap terjadi sekarang kasus
korupsi dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pejabat negeri sendiri. Sedangkan
Palestina adalah sebuah negeri yang telah redup pada kedamaian, di sana begitu
banyak air mata yang mengalir, anak-anak tidak bisa bermain bebas, setiap
waktunya akan ada kabar kematian rakyat palestina. Di sana dunia menjadi saksi
bagaiamana rintihan itu sebenarnya. Keadaan sebuah bangsa yang begitu
menyedihkan, bahkan mungkin kita bisa berpikir bagaimana mereka hidup dalam
penjajahan Yahudi. Banyak yang harus lari dari negerinya, gejolak batin pun
terjadi. Banyak juga penulis lahir atas kepekaan hatinya terhadap negeri suci
ini. Munir Mezyed salah satu diantaranya. Ia adalah seorang penyair
berkebangsaan Palestina yang kini tinggal di Romania. Dalam puisinya dia
berbicara tentang cinta universal dan impian kemanusiaan yang terasa jauh
sekaligus dekat. Sebagai penyair Palestina yang terpaksa meninggalkan tanah
kelahirannya, suaranya terasa pedih dan mengandung nada harap yang pekat. “Dan,
adakah pedih melebihi pedih Palestina?”. Munir Mezyed juga mengungkapkan
kecintaan pada Palestina melalui puisi-puisi, ia meluapkan semuanya. Diksi yang
indah pun mangalir melalui tangannya, tidak ada keraguan pada negeri yang
sedang berkecamuk berkepanjangan, bagaimana Munir Mezyed menuliskan semua itu,
dan apa yang menjadi amanat dalam puisi-puisinya. Dalam hal ini peneliti
mencoba membuat penelitian tentang amanat yang terkandung dalam puisi-puisi karya
Munir Mezyed dari segi bahasa, kita dapat membaca bagaimana diksi yang
digunakan dan bahasa yang digunakan penulis dari negeri Timur Tengah ini.
2.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan, rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah amanat puisi-puisi karya Munis Mezyed?
3.
Tujuan
Masalah
Berdasarkan masalah yang telah
dirumuskan, tujuan penelitian adalah mendeskripsikan amanat yang terkandung
dalam puisi-puisi karya Munir Mazyed.
4.
Manfaat Penelitian
1) Peneliti
Peneliti
dapat mengetahui bagaimana cara menganalisis sebuah karya sastra pada struktur
batin karya tersebut, terlebih puisi itu merupakan puisi yang berasal dari
penulis Palestina yang memiliki karakter dan budaya yang berdeda dengan budaya
Indonesia.
2) Institusi
Pendidikan
Penelitian
in diharapakan dapat membantu mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dalam melakukan penelitian selanjutnya terhadap karya-karya
dari penulis asing.
5.
Kerangka
Teori
1)
Struktur
Puisi
Sastra
adalah pengungkapan masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sastra adalah
kekayaan rohani yang dapat memperkaya rohani. Sastrawan dapat dikatakan sebagai
ahli ilmu jiwa dan filsafat yang mengungkapkan masalah hidup, kejiwaan, dan
filsafat, bukan dengan cara teknis akademis melainkan melalui tulisan sastra.
Perbedaan sastrawa dengan orang lain terletak pada kepekaan sastrawan yang
dapat menembus kebenaran hakiki manusia yang tidak dapat diketahui tertembus
oleh orang lain. (Darma, 1984: 52-66).
Puisi
juga merupakan ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan mood atau
pengalaman jiwa yang bersifat imajinatif. Bahasa yang dipergunakan bersifat
konotatif, hal ini ditandai dengan kata konkret lewat pengimajian, pelambangan,
dan pengiasan, atau dengan kata lain dengan kata konkret dan bahasa figuratif.
Bentuk fisik dan bentuk batin puisi merupakan kesatuan yang bulat dan utuh
menyaturaga tidak dapat dipisahkan dan merupakan kesatuan yang padu. Bentuk
fisik dan bentuk batin itu dapat ditelaah unsur-unsurnya hanya dalam kaitannya
dengan keseluruhan. Unsur-unsur itu hanyalah berarti dalam totalitasnya dengan
keseluruhannya. Unsur-unsur lain puisi juga melakukan regulasi diri artinya
mempunyai saling keterkaitan antara satu unsur dengan unsur yang lain. Jalinan
makna dalam membentuk kesatuan puisi menyebabkan keseluruhan puisi lebih
bermakna dan lebih lengkap dari sekedar kumpulan unsur-unsur.
Dalam puisi, kata-kata, frasa dan
kalimat mengandung makna tambahan atau makna konotatif. Bahasa figuratif yang
digunakan menyebabkan makna dalam baris-baris puisi itu tersembunyi dan harus
ditafsirkan. Sebuah kata dalam puisi terlebih puisi tersebut menggunakan bahasa
imaji kemungkinan mempunyai makna ganda sehingga pembaca atau penelaah yang
berbeda mengartikan satu puisi dengan bermacam arti, atau mungkin menjadi makna
baru. Bahasa yang digunakan dalam puisi tidak patuh pada aturan logis sebuah
kalimat namun bahasa yang terkandung dalam puisi tunduk kepada ritma lirik
puisi. Dalam mencari struktur batin puisi Rolland Barthes dalam kupasannya
terhadapa S/Z menyebutkan adanya 5 kode bahasa yang dapat membantu pembaca
memahami makna karya sastra, yaitu: (1) Kode
hermeneutik (penafsiran) (2) Kode
proairetik (perbuatan). (3) Kode
semantik (semene) (4) Kode simbolik a
(5) Kode budaya.
2)
Strutur
Fisik Puisi
Struktur fisik puisi adalah medium untuk
mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. Unsur-unsur bentuk atau
struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni unsur estetik
yang membangun struktur luar dari puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu
persatu, tetapi unsur-unsur itu merupakan kesatuan yang utuh. Unsur-unsur
tersebut ialah: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas),
verifikasi, dan tata wajah puisi.
3)
Struktur
Batin Puisi
I.A Richards menyebut makna atau
struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi (1976: 180-181). Ada empat
unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau
sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention), keempat unsur
itu menyatu dalam ujud penyampaian bahasa penyair.
a. Tema
atau Makna
Media puisi adalah bahasa. Salah satu
tataran dalam bahasa adalah hubungan tanda dengan makna yang dipelajari dalam
semantik. Tema merupakan gagasan pokok
yang dikemukakan oleh penyair. Dasar dari pikiran itu begitu kuat mendesak
dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Dengan latar
belakang pengetahuan yang sama, penafsiran-penafsiran puisi akan memberikan
tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi. Tema puisi harus dihubungkan dengan
penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema
bersifat khusus (penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir), dan lugas
(tidak dibuat-buat).
b. Perasaan
Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang
terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar
belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan,
agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman
sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan
ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair
memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih
banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang
terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
c. Nada dan suasana
Nada
dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Penyair mempunyai sikap
tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, mengejek,
menasehati, menyindir, atau menyatakan sikap lugas hanya menceritakan sesuatu
terhadap pembaca. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa.
Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi
akibat psikologis yang ditimbulkan puisi tersebut terhadap pembaca. Nada dan
suasana puisi saling berhubungan karena nada dalam puisi menimbulkan suasana
pada pembacanya. Contohnya, penyair menuliskan puisi duka, maka pembaca akan
mengalami iba dalam jiwa setelah membacakan puisi tersebut, nada krikit akan
menimbulkan pemberontakan terhadap pembcanya, nada relijius dapat menimbulkan
suasana khusyuk, dan seterusnya.
d. Amanat atau Tujuan
Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra; pesan yang
ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Sadar ataupun tidak,
ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa
dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Amanat yang hendak disampaikan penyair dapat ditelaah setelah puisi tersebut
dipahami tema, rasa dan nada. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong
penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang
disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amnat yang akan disampaikan
penyair mungkin secara sadar ada dalam pikiran penyair, namun banyak juga
penyair yang tidak sadar akan amanat yang diberikan. Telaah tentang sejarah,
tentang penyair beserta aliran, filsafat, dan jamannya merupakan sumbangan
terhadap penafsiran amanat puisi, sehingga penafsirannya lebih mendekati
kehendak penyair.
6. Metode
Penelitian
1) Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskrtiptis-analitis dengan menggunakan pendekatan
struktural, yaitu karya sastra merupakan susunan unsure-unsur yang bersistem,
yang antara susunan-susunan tersebut terjadi hubungan timbale balik, saling
menentukan. Puisi terbentuk atas struktur yang membentuk puisi tersebut.
Struktur yang memberntuknya adalah struktur fisik dan struktur batin. (Pradopo,
1993; 118).
Penelitian yang dilakukan bukan pada
puisi karya penyair Indonesia, melainkan puisi yang lahir dari Negara timur
tengah, yaitu Palestina dengan menghimpun data puisi-puisi yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hasil data akan
dideskripsikan secara kualitatif berdasarkan kajian puisi yang telah
dianalisis. Puisi
terbentuk atas struktur yang membentuk puisi tersebut. Struktur yang
membentuknya adalah struktur fisik dan struktur batin. Jadi, unsur-unsur inilah
yang akan dikaji dalam penelitian ini namun, fokus pada unsur batin, yaitu pada
amanat yang terkandung dalam puisi karya Munir Mezyed.
2)
Sumber Data
Sumber
data pada penelitian ini adalah sejumlah puisi-puisi karya Munir Mezyed dalam “Munir
Mezyed award for poetry & translation penghargaan Munir Mezyed untuk puisi
& terjemahan” persembahan untuk
Palestina.
Puisi-puisi
yang menjadi sumber data penelitian ini berjumlah 15 judul puisi yang telah
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Untuk lebih jelasnya pada tabel judul
puisi karya Munir Mezyed.
|
No.
|
Judul puisi (bahasa Inggris)
|
Judul Puisi (Bahasa Indonesia)
|
|
1.
|
Beirut...
Woman from Pine and Oak
|
Beirut ...
Perempuan dari Pine dan Oak
|
|
2.
|
Bird of Eden
|
Burung dari Eden
|
|
3.
|
Bucharest
The Eternal City of Poetry
|
|
|
4.
|
Gaza is burning... We are
starving
|
Gaza terbakar ... Kami kelaparan
|
|
5.
|
Jerusalem & Dream to Return
|
Yerusalem & Mimpi untuk
Kembali
|
|
6.
|
Mermaids Beach
|
putri duyung Pantai
|
|
7.
|
Munir Mezyed Sings to Baghdad
|
Munir Mezyed Nyanyian untuk
Bagdad
|
|
8.
|
O My Homeland
|
Wahai Negeri saya
|
|
9.
|
Palestine is Eternal Love Poem
|
Palestina adalah Puisi Cinta
Abadi
|
|
10.
|
Palestinian Elegy
|
Syair Ratapan Palestina
|
|
11.
|
Shadow, Dreams and Death.....
|
Bayangan Mimpi dan Kematian
|
|
12.
|
The Mural of Poetry
|
Lukisan Puisi
|
|
13.
|
The Muse & I
|
Renungan dan aku
|
|
14.
|
The Naked Grief
|
Telanjang Duka
|
|
15.
|
The Poor & Winter
|
Rakyat Miskin & Musim Dingin
|
3)
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah dengan teknik analisisi dokumenter. Teknik ini dilakukan
dengan cara mengumpulkan data yang
sumber yang sudah ada atau dokumen yang tersedia. Data yang didapat adalah dari
kumpulan puisi-puisi karya Munir Mezyed award for poetry & translation
penghargaan Munir Mezyed untuk puisi & terjemahan” persembahan untuk Palestina.
4)
Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian
kualitatif dilakukan sejak mendapatkan kumpulan puisi karya Munir Mezyed. (Sugiyono,
2010:89). Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data mulai dari saat
pengumpulan data berlangsung. Tujuan peneliti adalah untuk mempermudah peneliti
dalam mengatur waktu dan juga menghindari penumpukan data. Adapun teknik penganalisisan data yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Seleksi data dilakukan untuk memilih data sehingga
akhirnya diperoleh data yang benar-benar valid.
2) Klasifikasi data dilakukan untuk
memilih dan mengelompokkan data berdasarkan jenis dan budaya penyair berasal.
3) Analisis data dilakukan untuk
mengetahui struktur puisi, memfokuskan pada struktur batin puisi, yaitu pada
amanat puisi yang diteliti.
Daftar
Pustaka
Ali,
Lukman. 1967. Bahasa dan Kesusastraan
Indonesia sebagai Cerminan Manusia Baru. Gunung Agung.
Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia
J. Waluyo, Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga
Teeuw. A. 2003. Sastera
dan Ilmu Sastera. Bandung: Pustaka Jaya
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Gramedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar