Senin, 13 Januari 2014

ANALISIS AMANAT PUISI KARYA MUNIR MEZYED



1.      Latar Belakang
Penelitian ini berkenaan dengan analisis amanat puisi-puisi karya Munir Mezyed. Berdasarkan penelitian yang berkenaan dengan analisis amanat puisi-puisi karya Munir Mezyed hanya pada bidang sastra, yaitu puisi. Puisi sebagai salah satu bagian karya sastra membicarakan masalah dan bermacam aspek dari kehidupan manusia. Puisi dapat menjadi sarana penting bagi manusia untuk mengenal pribadinya serta lingkungannya, melalui karya sastra dapat digambarkan kebudayaan manusia, tradisi berlaku, dan juga dan juga tingkat kehidupan yang telah dicapai oleh masyarakat pada masa tertentu. Sastra menghubungkan kita secara mesra dengan segala aspek kehidupan kita dengan nilai-nilai yang serbaneka, yang pada saat tertentu bisa atau malah bisa dibisakan menimbulkan benturan-benturan sesuai dengan muatan paham, doktrin, serta nilai-nilai yang serbaneka tadi (Ali 1976:18). Bahasa merupakan ungkapan hati dari penulis untuk mengutarakan sesuatu dalam bahasa yang padat dan menggunakan diksi-diksi sehingga puisi tersebut indah.
Puisi salah satu karya sastra yang indah, jika puisi tersebut menggunakan diksi imaji, maka pembaca akan mengutarakan makna tersendiri karena tersebut bisa jadi mempunyai makna ganda. Puisi dapat membawa hati pembaca dalam karya tersebut. Sastra lahir oleh dorongan manusia untuk mengungkapkan diri, tentang masalah manusia, kemanusiaan, dan semesta. Selain sebagai sebuah karya seni yang memiliki budi, imajinasi, dan emosi, sastra juga sebagai karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan emosional. Sastra yang telah dilahirkan oleh sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan intelektual bagi pembaca.
Dalam lirik modern konvensi keterjalinan antara kenyataan dan rekaan lain lagi sifatnya. Culler dalam bukunya structuralist Poetics, membicarakan secara sistematis dan mendalam “The Conventions of the lyric” bahwa puisi lirik pada satu pihak mirip dengan kenyataan.  Emosi yang diungkapkan dalam bentuk aku, dalam rangka waktu kini dan tempat sini, dan sekaligus secara konvensional pembaca tahu, diandaikan tahu bahwa secara semiotik penafsiran harus melampaui batas keakuan, kekinian dan kesinian penulis, yang menjadikan sajak penting sebagai puisi bukanlah informasi keakuan dan kekinian seorang penyair yang bernaman Chairil Anwar secara nyata. Puisi harus berisi kebenaran-kebenaran yang ada . masalah-masalah yang diangkat bukan semata-mata masalah khayal belaka, melainkan masalah kebenaran yang terdapat di dalam kehidupan pengarang dan masyarakat, sastra lahir dengan tema yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia.
Penelitian ini dilakukan karena peneliti ingin menganalisis karya yang merupakan bukan dari penulis Indonesia melainkan berasal dari Pelestina, hal ini menarik sebab dua Negara yang mempunyai kultur berbeda, Indonesia adalah Negara Timur Tengah, namun akibat pengaruh besar barat Indonesia dilihat dari beberapa sudut pandang lebih kebarat-baratan dan karya sastra yang lahir dari penulis Indonesia lebih membahas krtitikan kepada pemerintah, seperti yang kerap terjadi sekarang kasus korupsi dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pejabat negeri sendiri. Sedangkan Palestina adalah sebuah negeri yang telah redup pada kedamaian, di sana begitu banyak air mata yang mengalir, anak-anak tidak bisa bermain bebas, setiap waktunya akan ada kabar kematian rakyat palestina. Di sana dunia menjadi saksi bagaiamana rintihan itu sebenarnya. Keadaan sebuah bangsa yang begitu menyedihkan, bahkan mungkin kita bisa berpikir bagaimana mereka hidup dalam penjajahan Yahudi. Banyak yang harus lari dari negerinya, gejolak batin pun terjadi. Banyak juga penulis lahir atas kepekaan hatinya terhadap negeri suci ini. Munir Mezyed salah satu diantaranya. Ia adalah seorang penyair berkebangsaan Palestina yang kini tinggal di Romania. Dalam puisinya dia berbicara tentang cinta universal dan impian kemanusiaan yang terasa jauh sekaligus dekat. Sebagai penyair Palestina yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya, suaranya terasa pedih dan mengandung nada harap yang pekat. “Dan, adakah pedih melebihi pedih Palestina?”. Munir Mezyed juga mengungkapkan kecintaan pada Palestina melalui puisi-puisi, ia meluapkan semuanya. Diksi yang indah pun mangalir melalui tangannya, tidak ada keraguan pada negeri yang sedang berkecamuk berkepanjangan, bagaimana Munir Mezyed menuliskan semua itu, dan apa yang menjadi amanat dalam puisi-puisinya. Dalam hal ini peneliti mencoba membuat penelitian tentang amanat yang terkandung dalam puisi-puisi karya Munir Mezyed dari segi bahasa, kita dapat membaca bagaimana diksi yang digunakan dan bahasa yang digunakan penulis dari negeri Timur Tengah ini.


2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah amanat puisi-puisi karya Munis Mezyed?

3.      Tujuan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, tujuan penelitian adalah mendeskripsikan amanat yang terkandung dalam puisi-puisi karya Munir Mazyed.

4.      Manfaat Penelitian
1)      Peneliti
Peneliti dapat mengetahui bagaimana cara menganalisis sebuah karya sastra pada struktur batin karya tersebut, terlebih puisi itu merupakan puisi yang berasal dari penulis Palestina yang memiliki karakter dan budaya yang berdeda dengan budaya Indonesia.
2)      Institusi Pendidikan
Penelitian in diharapakan dapat membantu mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam melakukan penelitian selanjutnya terhadap karya-karya dari penulis asing.


5.      Kerangka Teori
1)      Struktur Puisi
Sastra adalah pengungkapan masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sastra adalah kekayaan rohani yang dapat memperkaya rohani. Sastrawan dapat dikatakan sebagai ahli ilmu jiwa dan filsafat yang mengungkapkan masalah hidup, kejiwaan, dan filsafat, bukan dengan cara teknis akademis melainkan melalui tulisan sastra. Perbedaan sastrawa dengan orang lain terletak pada kepekaan sastrawan yang dapat menembus kebenaran hakiki manusia yang tidak dapat diketahui tertembus oleh orang lain. (Darma, 1984: 52-66).
Puisi juga merupakan ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan mood atau pengalaman jiwa yang bersifat imajinatif. Bahasa yang dipergunakan bersifat konotatif, hal ini ditandai dengan kata konkret lewat pengimajian, pelambangan, dan pengiasan, atau dengan kata lain dengan kata konkret dan bahasa figuratif. Bentuk fisik dan bentuk batin puisi merupakan kesatuan yang bulat dan utuh menyaturaga tidak dapat dipisahkan dan merupakan kesatuan yang padu. Bentuk fisik dan bentuk batin itu dapat ditelaah unsur-unsurnya hanya dalam kaitannya dengan keseluruhan. Unsur-unsur itu hanyalah berarti dalam totalitasnya dengan keseluruhannya. Unsur-unsur lain puisi juga melakukan regulasi diri artinya mempunyai saling keterkaitan antara satu unsur dengan unsur yang lain. Jalinan makna dalam membentuk kesatuan puisi menyebabkan keseluruhan puisi lebih bermakna dan lebih lengkap dari sekedar kumpulan unsur-unsur.
Dalam puisi, kata-kata, frasa dan kalimat mengandung makna tambahan atau makna konotatif. Bahasa figuratif yang digunakan menyebabkan makna dalam baris-baris puisi itu tersembunyi dan harus ditafsirkan. Sebuah kata dalam puisi terlebih puisi tersebut menggunakan bahasa imaji kemungkinan mempunyai makna ganda sehingga pembaca atau penelaah yang berbeda mengartikan satu puisi dengan bermacam arti, atau mungkin menjadi makna baru. Bahasa yang digunakan dalam puisi tidak patuh pada aturan logis sebuah kalimat namun bahasa yang terkandung dalam puisi tunduk kepada ritma lirik puisi. Dalam mencari struktur batin puisi Rolland Barthes dalam kupasannya terhadapa S/Z menyebutkan adanya 5 kode bahasa yang dapat membantu pembaca memahami makna karya sastra, yaitu: (1) Kode hermeneutik (penafsiran) (2) Kode proairetik (perbuatan). (3) Kode semantik (semene) (4) Kode simbolik a (5) Kode budaya.
2)      Strutur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. Unsur-unsur bentuk atau struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu persatu, tetapi unsur-unsur itu merupakan kesatuan yang utuh. Unsur-unsur tersebut ialah: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), verifikasi, dan tata wajah puisi.
3)      Struktur Batin Puisi
I.A Richards menyebut makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi (1976: 180-181). Ada empat unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention), keempat unsur itu menyatu dalam ujud penyampaian bahasa penyair.
a.       Tema atau Makna
Media puisi adalah bahasa. Salah satu tataran dalam bahasa adalah hubungan tanda dengan makna yang dipelajari dalam semantik.  Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Dasar dari pikiran itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsiran-penafsiran puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).
b.      Perasaan
Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
c.       Nada dan suasana
Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, mengejek, menasehati, menyindir, atau menyatakan sikap lugas hanya menceritakan sesuatu terhadap pembaca. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa.
Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi akibat psikologis yang ditimbulkan puisi tersebut terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada dalam puisi menimbulkan suasana pada pembacanya. Contohnya, penyair menuliskan puisi duka, maka pembaca akan mengalami iba dalam jiwa setelah membacakan puisi tersebut, nada krikit akan menimbulkan pemberontakan terhadap pembcanya, nada relijius dapat menimbulkan suasana khusyuk, dan seterusnya.
d.      Amanat atau Tujuan
Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra; pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Sadar ataupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. Amanat yang hendak disampaikan penyair dapat ditelaah setelah puisi tersebut dipahami tema, rasa dan nada. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amnat yang akan disampaikan penyair mungkin secara sadar ada dalam pikiran penyair, namun banyak juga penyair yang tidak sadar akan amanat yang diberikan. Telaah tentang sejarah, tentang penyair beserta aliran, filsafat, dan jamannya merupakan sumbangan terhadap penafsiran amanat puisi, sehingga penafsirannya lebih mendekati kehendak penyair.

6.      Metode Penelitian
1)      Pendekatan dan Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskrtiptis-analitis dengan menggunakan pendekatan struktural, yaitu karya sastra merupakan susunan unsure-unsur yang bersistem, yang antara susunan-susunan tersebut terjadi hubungan timbale balik, saling menentukan. Puisi terbentuk atas struktur yang membentuk puisi tersebut. Struktur yang memberntuknya adalah struktur fisik dan struktur batin. (Pradopo, 1993; 118).
Penelitian yang dilakukan bukan pada puisi karya penyair Indonesia, melainkan puisi yang lahir dari Negara timur tengah, yaitu Palestina dengan menghimpun data puisi-puisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hasil data akan dideskripsikan secara kualitatif berdasarkan kajian puisi yang telah dianalisis. Puisi terbentuk atas struktur yang membentuk puisi tersebut. Struktur yang membentuknya adalah struktur fisik dan struktur batin. Jadi, unsur-unsur inilah yang akan dikaji dalam penelitian ini namun, fokus pada unsur batin, yaitu pada amanat yang terkandung dalam puisi karya Munir Mezyed.

2)      Sumber Data
Sumber data pada penelitian ini adalah sejumlah puisi-puisi karya Munir Mezyed dalam “Munir Mezyed award for poetry & translation penghargaan Munir Mezyed untuk puisi & terjemahan” persembahan untuk  Palestina.
Puisi-puisi yang menjadi sumber data penelitian ini berjumlah 15 judul puisi yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Untuk lebih jelasnya pada tabel judul puisi karya Munir Mezyed.
No.
Judul puisi (bahasa Inggris)
Judul Puisi (Bahasa Indonesia)
1.
Beirut...
Woman from Pine and Oak
Beirut ...
Perempuan dari Pine dan Oak
2.
Bird of Eden
Burung dari Eden
3.
Bucharest
The Eternal City of Poetry

4.
Gaza is burning... We are starving
Gaza terbakar ... Kami kelaparan
5.
Jerusalem & Dream to Return
Yerusalem & Mimpi untuk Kembali
6.
Mermaids Beach
putri duyung Pantai
7.
Munir Mezyed Sings to Baghdad
Munir Mezyed Nyanyian untuk Bagdad
8.
O My Homeland 
Wahai Negeri saya
9.
Palestine is Eternal Love Poem
Palestina adalah Puisi Cinta Abadi
10.
Palestinian Elegy
Syair Ratapan Palestina
11.
Shadow, Dreams and Death.....
Bayangan Mimpi dan Kematian
12.
The Mural of Poetry
Lukisan Puisi
13.
The Muse & I
Renungan dan aku
14.
The Naked Grief
Telanjang Duka
15.
The Poor & Winter
Rakyat Miskin & Musim Dingin

3)       Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan teknik analisisi dokumenter. Teknik ini dilakukan dengan  cara mengumpulkan data yang sumber yang sudah ada atau dokumen yang tersedia. Data yang didapat adalah dari kumpulan puisi-puisi karya Munir Mezyed award for poetry & translation penghargaan Munir Mezyed untuk puisi & terjemahan” persembahan untuk  Palestina.
4)      Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak mendapatkan kumpulan puisi karya Munir Mezyed. (Sugiyono, 2010:89). Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data mulai dari saat pengumpulan data berlangsung. Tujuan peneliti adalah untuk mempermudah peneliti dalam mengatur waktu dan juga menghindari penumpukan data.  Adapun teknik penganalisisan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Seleksi  data dilakukan untuk memilih data sehingga akhirnya diperoleh data yang benar-benar valid.
2) Klasifikasi data dilakukan untuk memilih dan mengelompokkan data berdasarkan jenis dan budaya penyair berasal.
3) Analisis data dilakukan untuk mengetahui struktur puisi, memfokuskan pada struktur batin puisi, yaitu pada amanat puisi yang diteliti.












Daftar Pustaka

Ali, Lukman. 1967. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cerminan Manusia Baru. Gunung Agung.
Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia
J. Waluyo, Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga
Teeuw. A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Bandung: Pustaka Jaya
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar