Hari itu seperti hari terkhir kami berkumpul dalam gubuk tua, masa kecil tempat mengukir masa yang tak pernah terlupakan sampai ia pergi dan tak pernah kembali ke rumah. Janji segala janji diutarakan malam terakhir itu “rahmat, selesai kamu sekolah ke dayah ya, intan katanya mau jadi dokter dan amri mau jadi seorang sarjana saja” ucapan terakhir delapan tahun silam yang sampai kini masih teringat dan tak kunjung tercapai semua janji itu.
Malam yang sungguh menggembirakan riang dalam kebersamaan seperti pertanda tak terduga bahwa esok tak ada hari lagi untuk kami bersama. “abang, hari ini aku sungguh merindukanmu” ucap batin yang terus meronta. Mengingat ketika kecil kami selalu bersama saat dikejar orang, dimarahi ibu, dihukum ayah, tidur bersama, berkelahi, memaki, bercanda, dan semua kenangan yang tak pernah terlupakan.
Pada setiap doa tak luput niat merujuk pada abang yang ku rindukan. Sampai tak tahu kata apa lagi yang harus terluangkan. Masa demi masa berlalu sepi, ibu yang selalu menyelipkan seuntaian doa untuknya pada tangis kerinduan. Seorang ibu yang begitu menyayangi anak yang telah pergi untuk selamanya, bahkan ibu tak pernah melihat bagaimana jasad sang anak ketika kepergiannya.
Delapan tahun silam pagi minggu pukul delapan lewat sedang duduk bersuka ria bersama anggota keluarga, tiba-tiba bumi mulai berguncang dan semakin berguncang, kegelisahan dan ketakutan mendera zikir selalu melafal, entah itu zikir yang paling khusuk atau tidak. Tak lama berselang setelah getaran itu suara letusan menggema dan ternyata laut telah terbelah, air bah sudah merabah dan ribuan jiwa berlarian mencari tempat paling aman.
Ibu yang semakin takut bertambah risau dengan kabar tersebut, mengapa tidak anak pertama yang merantau tak kunjung memberi perkara hal keadaannya. Ayah juga yang tidak ada di rumah berangkat bekerja ke kota menambah kegelisahan. Waktu berlalu sampai malam dengan kabar sepi tak tahu anak dan ayah ada di mana, terdengar media-media, orang-orang bercerita bahwa sebagian Aceh telah lenyap oleh laut. Ibu semakin menangis “ya Allah, anakku” bersama air mata.
Lepas menunaikan ibadah sembahyang mangrib ayah pulang. beliau mendapat kabar yang sama. Pada waktu itu juga ayah berangkat menuju Banda Aceh untuk menjemput abang dengan linangan air mata ibu berkata “ayah, tolong bawa pulang Ijal, aku sungguh merindukannya. Ayah, bawa anak kita pulang. Ayah, aku tak ingin terjadi suatu pada anak kita, ayah tolonglah!”. Dengan tergesa-gesa ayah menjawab “aku akan pulang dengan anak kita, berdoalah semoga ia tak apa-apa di sana”. Berjuta doa dan harapan muncul dari kasih seorang ibu yang berharap anaknya kembali dengan selamat beserta sang ayah.
Pagi senin ayah telah sampai di Banda Aceh yang telah luluh lantak oleh Tsunami, seperti kota mati hanya yang banyak mayat-mayat yang bergelimpangan di ruas jalan, tanah, dan segala tempat. Ayah seperti kehilangan separuh jiwa melihat tangan Tuhan sedikit menyentuh alam, teguran maha dahsyat bagi manusia tiada yang mampu mengelak bila ajal telah tiba. Pada sebuah rumah ayah berhenti, yaitu rumah saudara kami di sana “mana ijal?” kata pertama yang di ucap ayah.
Di sini, ibu masih menunggu dengan sejuta doa dan harapan menanti kepulangan anak kebanggaan keluarga yang selama ini bersikap baik dengan sedikit sifat buruk padanya. Anak yang jarang di temui. Ayah menelpon ibu, “tenanglah dindaku, aku sedang mencari anak kita” di hari ketiga pasca bencana tersebut.
Risau yang menguasa di hati ibu terus mendesah, keraguan akan hidup anaknya menghampiri, ia mulai yakin sang anak telah tiada, namun tetap berharap anak itu pulang. “dinda, sudah lima hari aku di sini mencari anak kita, segala tempat telah aku telusuri, ragam orang aku temui, hanya aku bertemu dengan sahabat anak kita, bila anak kita masih hidup yakinlah ia akan kembali memelukmu, dan jika Ijal telah tiada ia juga akan menjumpai lepas sujudmu pada tuhan. Dinda, kau tahu, hatiku juga risau merindukan anak kita, kau ingat tiga bulan sebelum ia pergi, Ijal berjanji akan pulang, kau akan bertemu dengannya segera walau bukan di alam nyata”. Hatinya semakin meronta ibu hanya menjawab “ayah, pulanglah, aku ikhlas. Mungkin anak kita telah menghadap tuhannya dengan tenang dan selalu menghadiahi kita dengan doa yang mustajab”.
Saban waktu ibu menunggu di pintu depan rumah bersama senyum air mata menanti kepulangan ayah dengan harap anaknya juga ikut serta. Terdengar suara mobil, ibu langsung lari ke arah luar menyapa ayah, “kanda, kau pulang dengan selamat tanpa anak kita, aku bahagia kanda, aku ikhlas” seketika juga ayah terjatuh karena tak sanggup melihat istri tercinta kecewa dengan harapannya selama ini.
Penantian ibu selalu hadir pada anaknya, bahkan hingga kini. Semua telah terangkai dalam doa-doanya. Waktu terus berlalu harapan masih terpendam bila dunia tak lagi memberi saksi akan sebuah pertemuan biarlah taman surga menjadi tempat pertemuan yang paling indah.
24 Desember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar