Kepada Ibu.
Menjelang matahari terbenam, mengalun indah lantuan ayat-ayatNya dari bibi-bibir yang diridhai, kala itu kerinduan memuncak padamu yang jauh; yang dicintai. Rindu seakan membesar ini kerap terjadi, bahkan setiap waktu. Mengenang setelah kepergianku ke perantauan meninggalkan banyak kisah di gubuk tua tempat berbagi kasih dan sayang.
Bukan aku memilihmu atau engkau yang memilihku, tetapi aku memang ditakdirkan untuk mencintai selama apapun itu, di sini, sampai aku dibangkitkan kembali dan kita bersama bersilahturahmi (aamiiin). Sering diseketika waktu aku bermunajat memohon pinta padaNya untukmu, banyak yang ingin aku persembahkan, banyak pula cerita-cerita yang ingin aku sampaikan dengan tidur memanja dipangkuanmu dan engkau mengelus kepalaku. Betapa banyak kerinduan, namun tak semudah mengungkapkan kata.
Hatiku mampu bicara banyak bersama perasaan, tapi bibirku kelu begitu saja saat akan kuuraikan dengan pena kecil ini. Sekiranya qalbu ini lembut seperti lembutnya hati Rasulullah, aku sangat bahagia menitipkan setetes air mata sebagai salam dan doa. Hendak langkah bisa berlari, waktu berdetak cepat, aku ingin pulang dengan hadiah yang kujanjikan, yaitu kebanggan dan bakti. Aku mencintaimu; bidadari cantik sepertimu.
Malam ialah sajak, hati mengurai sendiri, kaki berjalan sepi, mata memandang tak berarah, membaca bukan kata, tapi imajinasi yang memikirkanmu, jika boleh, aku selalu ingin pulang sejenak. tiada kasih yang putus bagi setiap insan saat pandangan pertamanya adalah kasih sayang dan saling mencintai, mengenal sebelum pernah berkata, memanja sebelum menyentuh tangan, dan doa-doa sudah diucapkan sebelum pertemuan. Sembilan bulan penantian sampai benar-benar Tuhan hadiahkan aku untukmu.
Setelah kehilangan buah cinta pertama, aku hadir sebagai penganti yang semoga bisa mengantikannya menjadi bahagiamu dunia-akhirat. Banyak janji yang aku ikrarkan dalam batinku, aku menjadi sangat sabar sebab keyakinan dalam setiap doamu “aku tersebut ikhlas tak pernah lepas” sebab itu cinta tak pernah lekang atau goyah sedikitpun. Aku tak mampu mengibaratkan engkau dengan apapun atau siapapun, namun aku akan mengulang bahwa bidadari itu cantik; sepertimu, ibuku yang tercinta.
Aku sebutkan namamu dalam doa rinduku, saat matahari belum terbenam sempurna melantunkan firmanNya dengan suaraku, semoga engkau merasakannya, ‘ibu, mencintaimu yang pertama adalah kebahagiaan terbesar, setelahnya mengiringi kebahagianku sebab melihatmu tersenyum aku menjadi perkasa; lahir dan batin. Ibuku, bidadari itu cantik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar