Senin, 13 Januari 2014

Resensi Puisi

Keindahan untaian kata, imajinasi, nada, makna, tema, amanat, dan suasana ada pada puisi karya Deddy Firtana Iman. Inilah makna yang terkandung dalam puisi Penantian Kemeja Tua yang akan saya coba untuk memahami makna dan dapat diambil tema sekaligus amanat. // Kain perca terbuang percuma // Di sini aku mewujudkan ruh impian kehangatan// penulis mengawali untaian katanya dengan ingin mencapai suatu yang ia rindukan selama ini. // Pada rongga-rongga lipatan ketulusan empat segi // Menerawang pada ujung pangkal leherku // Terus mengikat kemolekan seuntai bunga terselip di dada//. Mencoba melepaskan penat rindu selama ini yang tersimpan di dada, hanya mampu menahan dan belum sempat menyatakan dalam geraknya.

Cukup sulit memahami puisi dengan keseluruhan karena setiap pembaca mempunyai makna tersendiri. Sang penulis puisi kembali memprkuat kerinduannya pada bait selanjutnya.

Aku menatapnya penuh resah

Si tua yang menuai kesakitan

Menunggu bunga bermekaran di tubuh perjuangannya

Tersungkur dan terseok-seok

Kepiluan itu terjangkit memanaskan otakku

Sebagai anaknya

Pada bait kedua ini penulis mencoba menampakkan sedikit penjelasan pada baris satu dan dua // Aku menatapnya penuh resah // Si tua yang menuai kesakitan // dua baris tersebut bisa dikatakan kata kunci pada bait kedua. “Si tua” adalah orang tua yang sedang sakit yang sudah lama hidup dalam perjuangan, // Kepiluan itu terjangkit memanaskan otakku // Sebagai anaknya // saat “Si tua” sedang menuai kesakitan si anak dapat merasakan kesedihan melihat “si tua” yang berarti ayah.

Semoga wujudku menyatu pada sehelai benangmu

Merapat sedekat kulitku, menyatu melipatkan tubuhku

Sehingga wujudku tersembunyi di balik kelembutanmu

Di sini kita tidak dapat menemukan kata kunci seperti pada bait sebelumnya hingga tidak bisa dengan mudah menemukan makna pada bait tersebut, namun dari bahasa yang di pakai Deddy Firtana Iman menjelaskan bahwa ia sedang mendoakan “si tua” yang sedang menuai kesakitan. Penulis puisi tiada meenaruh kata langsung, melainkan kata imajinasi sehingga setiap pembaca bisa memberikan arti menurut masing-masing. Pemberian arti oleh setiap pembaca memang sudah hal lazim dan penulis pun tidak dapat mengahalaunya. Karena apabila penulis memainkan imajinasi pada karya sastra khususnya puisi akan mempunyai banyak arti. Seperti prinsip dasar sebuah puisi adalah berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin.

Di baris terakhir bait dua terakhir penulis puisi menerangkan bahwa // Sebentar lagi, mungkin dia akan meninggal //. Penggalan bait tersebut dia mengatakan mungkin “si tua” akan meningga, umur yang telah di makan oleh waktu. Alur puisi ini terus berlanjut sampai di bait terakhir // Selamat jalan ayahku // “si tua” yang sudah meninggal, dari bait-bait sebelumnya penulis menggunakan kata “si tua” yang dimaksud adalah sang ayah. Ayah yang menurut Deddy Firtana Iman // Kau adalah pejuang dalam batinku//.

Dari serangkaian cerita dalam puisi tersebut dapat kita simpulkan adalah kisah pilu ketika kehilangan seorang yang sangat dekat dengan kita, seorang yang selalu memberi kita nafkah dari hasil jerit payahnya sendiri. Tema yang terkandung dalam puisi tersebut adalah ketegaran sang anak saat kehilangan ayah tercinta. Amanat yang dapat kita ambil dari puisi tersebut adalah bagaimana kita dapat berlapang dada dengan ikhlas melepaskan seseorang yang disayangi dan dapat mengambil contoh baik dari ayah, karena pemimpin dalam rumah tangga adalah ayah, buka orang orang lain. Ayah adalah sosok yang patut kita beri jempol juga bisa banyak belajar dari keseharian yang dilaluinya, bertanggung jawab terhadap keluarga hingga ayah dapat dikatakan kau adalah pejuang batinku. Seperti kata Deddy Firtana Iman dalam Puisi Penantian Kemeja Tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar