Rabu, 29 Januari 2014

Seuntai Diari II

Beberapa hari lalu begitu saja, teringatnya terus-menerus mengirai dalam pikiran. Aku kembali mencari cara memberanikan diri mengungkap rasa bahwa aku sedang jatuh cinta, namun seiring itu ketakutan lebih hebat. Mungkin aku lebih suka mengibaratkan bumi tempat pijakan bertemu langit indah. Ini bukan perihal pertemuan pertama melainkan tatapan yang kesekian kalinya dan rasa semakin besar seiring malu dan takut.
Setahun lalu aku sangat mengingat bagaimana pertama sekali pertemuan itu, aku berjalan ringan dipelataran kantin, sejenak melihat selebaran lomba menulis puisi dalam rangka maulid, “walaupun tak menang, setidaknya iseng-iseng saja mengikuti lomba ini” pikirku. Saat itu aku tak punya uang di saku, terpaksa meminjam pada seorang teman dan berjalan cepat dengan riang ke arah panitia. “saya ingin daftar lomba tulis puisi!” sapaku biasa, ia hadiahkan senyuman pertama waktu itu, ya! Pertama sekali tanpa bicara kuberikan biodata kemudian aku pergi.
Dua hari berlalu berlalu begitu saja, menjelan siang pesan singkat masuk dari panitia “batas pemberian naskah puisi sampai nanti siang pukul 14” belum satu kata pun aku menulis puisi.

bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar