Oleh: Rahmatsyah
Ini
tentang kerinduan yang acap ingin membunuh, ia datang saat tak tepat. Aku melalukan
segala hal demi cita-cita dan cinta yang kutuliskan dengan hati di langit,
mengecapnya "dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang” hingga
mendapatnya dengan senyuman yang sedang tersimpan begitu erat. Perihal hati
yang mencintai bak sesungguh cinta jua aku sembunyikan sejenak lalu terucap
sesekali ada kata pengikat hati.
Bermula
sebuah tatapan jauh menyambut, begitu hangat kuterima, sangat pekat tapi indah
sesibuk hati terlalu bergairah dan mengata diri bahwa “itu untukku!”. Secara cepat
ada yang berbeda hari ini, mungkin hanya perkataan hati “dia bukan calon
makmumku”, menyimpannya hingga terus menerus sampai aku lupa pernah memandangnya
terlalu lama juga mendapat hadiah cinta baru, “ini mungkin selamanya, cukup ku
jalani saja dengan semudah mungkin” aku larut lalai setiap hari, ia
meninggalkanku dengan rela hati, aku terima pasrah. Tak ada yang patut
kupandang lagi dengan kasih.
Saban
hari berlalu, jalanan seperti lumpur tak berhujan seperti sampah bukan dalam
tempatnya, hampa bahkan sangat. Mengeluh dan mengeluh, bersujud, menadahkan
tangan berharap iba, hati ini sangat kacau “mengapa cinta sangat berlarut di
qalbuku yang hina?” sepantas aku belum siap dengan semuanya, aku masih terlalu
muda, belum bisa apa-apa, ya!, aku cukup aku memendamnya saja, bak dunia
berkabut untukku saat-saat itu. Aku harus membahagiakan apa yang perlu aku
bahagiakan, bukan lemah seperti ini, bodohnya diriku ini.
Ketika
waktu mulai berpihak, seiring segalanya aku mulai waras. Sesuatu baru datang,
hal yang sama seperti sebelumnya, cinta. cinta yang mulai merubahku kembali
menjadi gila, ia tiba-tiba tepat berada dihadapanku saat kaki sempurna
berjalan, senyuman yang dulu tak pernah ku dapat kini berhadir sejenak waktu,
hatiku lagi pilu, yang tak kuinginkan datang menyapa “aku harus bagaimana?”
banyak tanda tanya teruntai, tak lama itu ia berlalu dari tatapku.
Aku
ingin menulis semua dengan seindah mungkin, namun pikir tentang hal yang tidak
mungkin tetap saja terbayang, malam-malam menatap langit rumah gadis tersebut
tersenyum dalam bayangan, wajahnya putih bak awan kecil mengitar bumi, senyum
tipis hias anggunnya wajahnya, matanya yang sipit seperti bulan tak sempurna,
ah! dirinya begitu indah bagiku yang seperti batu jalanan.
Bersambung
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar