Jumat, 24 Januari 2014

Seuntai Diari

Oleh: Rahmatsyah

Ini tentang kerinduan yang acap ingin membunuh, ia datang saat tak tepat. Aku melalukan segala hal demi cita-cita dan cinta yang kutuliskan dengan hati di langit, mengecapnya "dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang” hingga mendapatnya dengan senyuman yang sedang tersimpan begitu erat. Perihal hati yang mencintai bak sesungguh cinta jua aku sembunyikan sejenak lalu terucap sesekali ada kata pengikat hati.
Bermula sebuah tatapan jauh menyambut, begitu hangat kuterima, sangat pekat tapi indah sesibuk hati terlalu bergairah dan mengata diri bahwa “itu untukku!”. Secara cepat ada yang berbeda hari ini, mungkin hanya perkataan hati “dia bukan calon makmumku”, menyimpannya hingga terus menerus sampai aku lupa pernah memandangnya terlalu lama juga mendapat hadiah cinta baru, “ini mungkin selamanya, cukup ku jalani saja dengan semudah mungkin” aku larut lalai setiap hari, ia meninggalkanku dengan rela hati, aku terima pasrah. Tak ada yang patut kupandang lagi dengan kasih.
Saban hari berlalu, jalanan seperti lumpur tak berhujan seperti sampah bukan dalam tempatnya, hampa bahkan sangat. Mengeluh dan mengeluh, bersujud, menadahkan tangan berharap iba, hati ini sangat kacau “mengapa cinta sangat berlarut di qalbuku yang hina?” sepantas aku belum siap dengan semuanya, aku masih terlalu muda, belum bisa apa-apa, ya!, aku cukup aku memendamnya saja, bak dunia berkabut untukku saat-saat itu. Aku harus membahagiakan apa yang perlu aku bahagiakan, bukan lemah seperti ini, bodohnya diriku ini.
Ketika waktu mulai berpihak, seiring segalanya aku mulai waras. Sesuatu baru datang, hal yang sama seperti sebelumnya, cinta. cinta yang mulai merubahku kembali menjadi gila, ia tiba-tiba tepat berada dihadapanku saat kaki sempurna berjalan, senyuman yang dulu tak pernah ku dapat kini berhadir sejenak waktu, hatiku lagi pilu, yang tak kuinginkan datang menyapa “aku harus bagaimana?” banyak tanda tanya teruntai, tak lama itu ia berlalu dari tatapku.
Aku ingin menulis semua dengan seindah mungkin, namun pikir tentang hal yang tidak mungkin tetap saja terbayang, malam-malam menatap langit rumah gadis tersebut tersenyum dalam bayangan, wajahnya putih bak awan kecil mengitar bumi, senyum tipis hias anggunnya wajahnya, matanya yang sipit seperti bulan tak sempurna, ah! dirinya begitu indah bagiku yang seperti batu jalanan. 

Bersambung …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar