(Menanti Hakikat Cinta)
... Terkadang rinduku bukan hanya pada hatimu dan paras, tetapi saat dirimu ‘merajuk’. Adakah dikau tahu, ini bagian dari sebuah kisah juga bagaimana kesabaran harus terjaga. Kerap doaku dalam batin “jika cintaku padamu belum sempurna, berikan aku waktu bermunajat sampai aku benar sempurna pada hakikat cinta”. Menyadari sifatku yang tak sesempurna kekasihNya, bahkan masih sangat jauh dari itu, aku terus belajar dan meluangkan waktu untuk bersama alam. Menyaksikan bagaimana kesabaran senja di kala pagi, atau apakah laut bersedih saat matahari tenggelam dibaliknya, pun aku seperti itu.
Dengan kesadaran seorang insan yang sedang belajar sepertiku ini butuh waktu panjang, aku berharap kau jua bersabar akan keadaanku ini, menantikan cintamu bersama detak-detak, seperti menempuh perjalanan jauh; ‘semoga kita berakhir dengan dua cincin di jari manis’. Seiring segala lakuan, aku bahagia menuliskan tiap kata hati ini menjadi seuntai diari, tentang kidungmu dan aku.
Aku menikmati setiap saat berlalu, apakah riang, pilu, amarah, dan kesabaran, sebab semua akan menjadi kisah kita saat cincin telah halal kupasangkan pada jari manismu, saat mengenggam tanganmu menjadi pahala, saat melindungimu adalah tanggung jawabku, saat kau berdiri dibelakangku sebagai makmum, saat kita berbagi ayat-ayat lantunan cinta dariNya.
Seyakin kala ini, kita tak saling mengetahui kata hati kau-aku, namun Qalbu namamu tetap terjaga bagus di sini. “qalbu, apakah kau sedang merajuk?” aku tak tahu apa yang sedang kau rasa, “Qalbu, apakah cintamu sebesar cintaku?” pun aku belum tahu, “qalbu, maukah kau dan aku saling menjaga hati sampai hari itu tiba?” semoga kau menjawab “iya” dan ku”aamiiin”kan dengat sangat ikhlas.
Qalbu, aku tak setampan Yusuf kekasih Zulaikha, tak sekaya Raja Sulaiman pujaan Ratu Bulqis, tak sekuat Umar Bin Khattab, dan syair-syair tak seindah pena Jalaluddin Rumi yang ia hadiahkan kepada bagian kasihnya, tapi aku akan mencoba merangkai tentang cintaku padamu dengan sederhana mungkin, seperti cintaku yang sederhana ini. Ijinkan aku mencintaimu sebelum sampai cintaku pada hakikatnya.
Rahmatsyah, Tepi Jalan Lamnyong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar