Senin, 20 Januari 2014

Palestine is Eternal Love Poem (Palestina adalah Puisi Cinta Abadi)



from: Munir Mezyed 
We were wrapped in divine dreams,
Plucking the rose of creation,
Sipping the luscious nectar,
Drinking the toast of love,
Feeling that moment of invisible touch,  
Living in fairy tales,
Singing and dancing all day,
Wakened on the voice of madness,
The chaos of the bad time
And the ruins of this era...!

The trees stand all alone,
Naked, mournful,
Mewing with thirst and desire,
And the pasture is bored of human’s absurdity.
In the sky the stars are still flickering;
And they do not know anything
About the man who forgets them...!
O My love,
My soul weeps,
My heart is heavy and cold
As despair drags you to the edge of doom…
I will slay death,
Murder this madness
That hides in cave of sorrows,
And burn this fate,
Take you away from the isle of hell
To a place where none could see us but God...
I will not surrender to this fate
Nor will I declare it a defeat …
For Lo! You are the spring and winter of that hell,
The only sleepy light on the sea velvet..
O my love,
You are my pain and joy,
The night when it bestrews its secrets,
The day when the sun weaves the wreaths,
The Sanity and insanity.
You are my wine, cup, and poesy....
Your love has implanted me
Frosts of joy and grief,
Taught me how to draw God’s face,
 And drawn me a reckless child...
O my love,
The sparrows out there still sing
 On the branches of lips,
Calling your name..
Your perfume still emanates in the sprit’s ether,
Intoxicating the heaven of poetry and dreams...
Memories are flock of Swallows, nesting the eyelids.

Roses of spirit are withering away,
And sad rain pours down in my heart,
As images of fear chase me,
Invading,
Residing in my mind,
Imprinting
The Image of old woman digging,
Searching
The tombs of nostalgia...
For her lost youth…

Embrace me…!
Leaning on walls of anticipation,
Dreams, shattered,
Color my vision
With colors of pain…
Loneliness devours me
Darkness invades my fantasy…

Embrace me …!
Take the thorns of bitterness
From my bosom,
Pluck the Sun from your eyes,
Lead me to behold light,
Gather the Diaspora of my expatriation,
Sprinkle it in your eyes….!

Then let me sleep in palm of dream
For I have nothing but this warmth
And This tendency toward myth…











Palestina adalah Puisi Cinta Abadi

Kami dibungkus dalam mimpi ilahi
Memetik mawar penciptaan
Menghirup nektar lezat
Minum roti cinta
Merasa saat itu sentuhan tak terlihat
Hidup dalam dongeng
Bernyanyi dan menari sepanjang hari
Terbangun pada suara kegilaan
Kekacauan waktu yang buruk
Dan reruntuhan era ini
!

Pohon-pohon berdiri sendirian
Pilu, sedih,
Mengeong dengan haus dan keinginan
Dan padang rumput bosan absurditas manusia
Di langit bintang-bintang masih berkedip
Dan mereka tidak tahu apa-apa
Tentang orang yang lupa mereka!
Wahai Kekasihku,
Jiwaku menangis
Hatiku berat dan dingin
Seperti putus asa menyeret
mu ke tepi kehancuran
Aku akan membunuh kematian
Membunuh kegilaan in
i
Yang bersembunyi di dalam gua yang penuh kesengsaraan
Dan membakar nasib ini
Membawa
mu jauh dari pulau neraka
Untuk tempat di mana tidak ada yang bisa melihat kami tapi Tuhan
Aku tidak akan menyerah pada nasib ini
Aku juga akan mendeklarasikan kekalahan
Untuk
mu! kau adalah musim semi dan musim dingin neraka itu
Satu-satunya cahaya mengantuk pada beludru laut
Wahai cintaku
Kau rasa sakit dan sukacita
Malam ketika bestrews rahasia
Hari ketika matahari menjalin karangan bunga
Senja dan kegilaan
Kau anggur, cangkir, dan puisi
Cintamu telah ditanamkan
Salju sukacita dan kesedihan
Mengajari
ku cara menggambar wajah Tuhan
Dan menarik
ku seorang anak nekat
Wahai cintaku
Burung pipit di luar sana masih menyanyikan
 Di cabang bibir
Memanggil namamu ..
Parfum
mu masih memancar di sprit itu eter
Memabukkan langit puisi dan mimpi
Kenangan yang kawanan Swallows, bersarang kelopak mata


Bunga dari roh melenyap
Dan hujan sedih mengalir di dalam hati
ku
Sebagai gambar takut mengejar
ku
menyerang
yang berada di pikiranku
Pencantuman
Gambar tua menggali wanita
Mencari
Makam nostalgia
Untuk pemuda yang hilang

Memelukku
!
Bersandar pada dinding antisipasi
Mimpi, hancur,
Mewarnai visi
Dengan warna-warna nyeri
Kesepian memakan
ku
Kegelapan menyerang
khayalanku

Memelukku!
Ambil duri kepahitan
Dari dadaku
Pluck Matahari dari mata
mu
Membawa
ku untuk dilihat cahaya
Kumpulkan Diaspora pengusiran
ku
Taburkan di matamu!

Lalu biarkan aku tidur di telapak mimpi
Karena aku tidak ada tapi kehangatan ini
Dan ini kecenderungan
tabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar