Karya:
Abu Rahmat
Aku
memang tidak mengerti arti dari sebuah persabahatan, saling bersama berbagi
cerita suka duka, susah senang, pagi siang sampai malam. Tiada waktu kecuali
saling bersama. Kekeraban dua insan hingga menjadi anak angkat dari keluarga
masing-masing. Aku memang tidak mengerti arti dari sebuah persahabatan. Hanya
kau yang paham arti itu, kau dan kalian mempunyai sahabat, kau dan kalian
memang hebat, mempunyai seorang atau beberapa orang untuk meluahkan kasih
bahkan pedih. Sama-samalah berlinang air mata kalian, bukan aku, karena aku
memang tidak mengerti arti sebuah persahabatan.
Wajar
saja jika sekarang aku tampak seperti orang yang kesepian, ke mana pun sendiri,
ke kantin duduk dan sarapan sendiri, saat belajar kelompok aku kerap diacuhkan,
wajar saja karena kalian bersahabat dan aku hanya sebatas teman yang boleh
dipedulikan serta dianggap tak ada, wajar saja. aku memang tidak mengerti
sebuah arti persahabatan, kau dan kalian tidak pernah bertanya padaku, bila ada
hal penting saja, apalagi untuk sekedar barbagi sedekar berbagi cerita. Tidak
pernah sebab kau dan kalian bukan sahabatku.
Di
sini, aku hanya seorang yang singgah, aku tidak berkenalan dengan kau dan
kalian dari semenjak kecil, kita berteman saat sudah remaja. Dengan perangaiku
yang seperti ini, kalian pun tidak mau mendekat denganku. Jika kau dan kalian
tahu bahwa dari semenjak kecil pun aku tidak mempunyai sahabat bahkan seorang
pun tidak, kalian tidak akan memahaminya, tidak akan sebab kalian tidak
merasakan bagaimana menjadi orang seperti aku.
“hai!
saya rahmah, boleh duduk di sini?”
Seorang
gadis remaja seumuran denganku datang menghampiri, aku tidak pernah melihat dia
sebelumnya. Mungkin dia anak pindahan juga sama seperti ku, bedanya aku sudah
terlebih dahulu berada di sini. Surganya orang bersahabat dan neraka orang
kolot yang berasal dari kampun sepertiku. Tapi ia tak tampak seperti orang
kampung bahkan jauh lebih modis dari remaja-remaja yang sekolah di sini.
“boleh,
aku liani” jawabku agak cuek
“saya
baru pindah ke sini, kelasku di ujung tepatnya di kelas XII-IPA-1. “ ucapnya
sambil tersenyum kecil.
“tapi
aku tidak melihatmu tadi, saya juga kelas itu.” Aku mulai menatapnya.
“setelah
jam istirahat ini saya baru memperkenalkan diri, tadi saya baru aja sampai. Ada
beberapa yang harus di urus dengan TU sekolah ini.”
Aku
hanya mengangguk tanda paham padanya. Tak lama setelah itu, waktu istirahat
berakhir. Sungguh membosankan jika harus kembali ke ruangan lebay itu,
didalamnya penuh orang-orang alay, sok-sok pintar. Ya, walaupun aku sadar sudah
sewajarnya kelas inti penuh dengan siswa pintar tapi menurutku tidak segitunya
juga. Jalan harus bersama-sama, buat tugas berkelompok. Ah aku kesal jika tiap
terbayang kelas aneh itu. Aku malah iri dengan kelas IPS, menurutku mereka itu
asik, berandal, kalau boleh aku ingin sekali pindah kelas, tapi apa mau di
kata, orang tuaku sudah duluan meminta kepada kepala sekolah agar aku
ditempatkan di kelas inti “disekolah lama kamu itu selalu mendapat rangking 1,
jadi di sini kamu harus duduk di kelas inti dan rajin belajar.” Dasar orang tua
suka seenaknya, mengapa aku tidak bisa memilih jalanku sendiri? Aku seperti
hewan ternak yang tidak diikat juga tidak boleh dilepaskan. Apa maunya mereka?
Pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya mengikuti di kepala ini. Ah sial! Gara-gara
itu hari ini aku lagi-lagi tidak bisa belajar. Seribu pertanyaan dan penyataan
ini sudah terlalu lama terpendam dalam hati, ingin sekali bercerita, tapi siapa
pula yang akan mengerti?.
“liani,
nanti pulang bareng ya!” tiba-tiba rahmah menghampiri saat mata pelajaran
terakhir akan segera usai.
“oke,
liat dulu ya!”
“siiip
dah!”
Sudah
satu minggu anak baru itu sekolah di sini, sudah satu minggu pula aku ditegur
dan diajaknya pulang bersama, setiap hari pula dia hanya tertarik mengajak
bicara denganku, padahal anak-anak lain ramai yang mendekatinya. Dasar
anak-anak aneh, mentang-mentang si rahmah anak orang yang sedikit berpunya
bisanya kalian ingin bersahabat dengan dia, padahal aku sudah terlebih dahulu
sekolah di sini, kenapa aku dicuekin? Pertanyaan bodoh lagi-lagi timbul
dikepalaku.
Dua
hari aku tidak masuk sekolah karena deman meradang tubuhku, selama itu pula aku
harus berdiam di rumah, rumah yang lebih kurang seperti kandang ayam ini, ada
atau tiadanya orang sama-sama, ibu dan ayahku sibuk dengan pekerjaannya. Aku
ditinggalkan pada orang lain.
“liani, ini aku rahmah. Kenapa dua
hari ini kamu tidak masuk sekolah?” sebuah pesan singkat
masuk ke hp-ku. Untuk apa kubalas, tidak penting rasanya. Dia paling Cuma
basa-basi padahal aku sudah mengirim surat ke sekolah bahwa aku tidak bisa
masuk sekolah. Kuletakkan kembali hp-ku yang sepi itu di atas meja kecil.
Kupikir apa gunanya hp ini, tidak yang menelponku walau sekedar basa-basi.
Kalau pun ada saat ada perlunya saja.
Aku
sudah tidak betah berada di rumah, kuputuskan hari ini aku harus sekolah, lebih
baik di sana daripada di sini walaupun sejatinya sama saja. setidaknya ada yang
bisa kulihat di sana. Seluruh tubuhnya terasa letih, aku belum terlalu sehat.
Tapi kalau berada di rumah mungkin aku akan bertambah sakit. Aku segera
bergegas siap-siap sekolah, mencari kunci motor matic yang sudah dua hari hanya
berdiam di garasi rumah.
Pintu
gerbang sekolah hampir saja di tutup, aku tiba di detik-detik terakhir, bel
tanda masuk berbunyi bersamaan dengan ban depan motorku menabrak sedikit pintu
gerbang sekolah. “bang! Jangan tutup dulu, ini kan belum dikunti, aku pun Cuma
telat tiga detik. Tolong buka lebih lapang sedikit pintunya.” Pintaku pada
satpam yang sudah kenal dekat denganku, sekalipun kami tidak terlalu akrab tapi
kadang-kadang aku mencarinya untuk seksedar lelucon tidak penting darinya.
Di
depan pintu ruangan rahmah sudah berdiri, entah kebeltulan atau tidak, ia
berhadapan denganku tak lupa rahmah tersenyum. “hai” sapanya sambil tersenyum.
Kubalas pula dengan senyuman tipis dariku. Waktu berlalu begitu saja, bosan
meradang lahir batin, rahmah yang biasanya suka tiba-tiba hadir didepanku
tampak asik dengan kawan-kawan lain. Kenapa harus aku memikirkan dia? Padahal
aku cuek-cuek saja sama dia. Kutepis perasaan aneh ini.
“liani,
nanti pulang bareng ya!.” Akhirya rahmah menghampiriku secara tiba-tiba dan
sepertinya aku kaget, memang kesal tapi aku jadi rindu dengan kelakuannya
walaupun membuatku kesal.
“baiklah,
kamu pulangnya buru-buru gak? Aku mau ajak kamu makan siang di resto desbaro.
Kamu mau?” jawabku seraya memintanya ikut menemaniku makan siang dan ada yang
ingin kutanyakan padanya.
“wah,
boleh banget tu. Sudah lama aku menunggu ajakan darimu. Nanti biar aku saja
yang traktir ya!” serunya lagi, tapi aku menolak karena aku yang mengajak dia,
bukan sebaliknya.
Bel
tanda pulang sekolah berbunyi, rahmah sesegera mungkin datang padaku dan
langsung mengajak ke tempat ajakanku tadi. Dasar gadis aneh, aku heran
dengannya. Setiap hari dia tampak ceria aja, apa dia tidak punya beban apa-apa
dikepalanya. Sungguh anak beruntung. Kalau bisa, aku ingin sekali seperti dia.
Ah sudahlah. Kami pun bergegas menuju parkiran motor kami segera berangkat
dengan kendaraan masing-masing ke tempat tujuan. Tidak ada pembicaraan apa-apa
selama perjalanan sampai di resto desbaro.
Setelah
memesan pesanan masing-masing ia mulai berbincang denganku, rahmah lebih banyak
bercerita tentang masa di sekolahnya yang dulu. Aku hanya menjadi pendengar
budiman sesekali kuanggukkan kepala, padahal aku tidak terlalu mengerti apa
yang dia ceritakan karena dikepalaku lebih banyak kata-kata yang terpendam tapi
aku enggan untuk bercerita. Pengalaman mengajarkanku untuk tidak bersahabat,
aku kebalikan dari mereka.
“boleh
aku bertanya, rahmah?” aku membuka bahasan baru.
“iya,
silakan” sahutnya seraya tersenyum.
“entahlah
ini benar atau tidak. kau ini menyenangkan ya, setiap hari penuh dengan
keceriaan. Jarang aku menlihatmu bersedih. Kau tampak bahagia, banyak teman
sekolah yang mendekatimu, tapi kamu malah aneh mendekatiku. Apa kau tidak salah
memilih teman?.”
“hehe”
tawa kecilnya sebelum melanjutkan pada aksara berikutnya, tawa yang membuatku
sedikit kesal. Selalu saja begitu.
“liani,
kau ini mengingatkanku pada sahabatku yang dulu. Bukan hanya sifatmu dengannya
yang hampir sama, wajah kau dengannya juga agak miripan. Kau salah jika
menilaiku seorang yang bahagia, beberapa kali aku melihatmu di antar oleh orang
tuamu, sedangkan aku, apa kau pernah melihat aku diantar oleh kedua orang tua?.
Aku tidak pernah memilih dalam hal pertemanan, walaupun kau lihat banyak
anak-anak disekolah yang mendekatiku, aku lebih memilih kamu. Berteman denganmu
membuatku lebih nyaman. Bukan dengan mereka.”
Perkataannya
membuatku mulai luluh “ apa kemiripan antara aku dan sahabat lamamu itu?
Sekarang dia di mana?” tanyaku penasaran.
“kalian
itu sama-sama mempunyai bentuk wajah yang agak lonjong tapi bulat, pipi dan
hidung kalian agak bulat. Hehe!!. Sekarang ia sudah pulang, lia” rahmah mulai
murung, matanya memerah, disela kelopak matanya air mengalir tetes-pertetes.
“pulang
ke mana?, ke kampungnya?” tanyaku lagi.
“bukan,
kembali pada Tuhan. Ia menderita penyakit kangker. Kau tau liani yang membuatku
sangat bersedih itu ketika aku tahu sahabatku sakit di saat terakhirnya. Aku
lupa mendengar kisah darinya karena dia sibuk dengan kisahku. Aku berpikir
tidak akan menemukan orang seperti dia, tapi kau seperti dia, penganti dirinya.
Aku tidak sedih saat kau cuek padaku, acuh, atau lainnya karena kau tidak
menyembunyikan apa-apa, sedang yang kulihat dari teman-teman yang lain, mereka
mendekatiku seperti ada maksud tertentu”. Jelas rahmah dengan air mata yang
terus berderai. Aku pun tidak dapat menahan kesedihan lagi.
“liani,
aku tidak tahu masalah apa yang terpendam dalam hatimu, tapi, dari sikapmu
selama kita satu kelas, kau seperti menyimpan banyak masalah dan sikap
tertutupmu menampkkan sekali kalau kau tidak suka bercerita pada orang.”
“benar
katamu rahmah, kalau kau pernah merasakan indahnya persahabat, aku bisa
dikatakan tidak sama sekali. Kupendam segala kesal di lubuk hati, tak
kuceritakan sebab tak ada yang mau mendengar dan kali ini aku ingin bercerita
padamu. Kau tahu bagaimana rasanya jadi seorang anak yang selalu dilihat tapi
tidak pernah tampak?, sangat menyakitkan liani. Aku sakit tidak pernah di tanya
oleh orang tuaku, kecuali jika sakitku sudah parah, saat itu mereka sibuk.
Tasku rusak, mereka pun Cuma lihat saja, dulu aku sering meminta tapi mereka
lebih banyak memberi kepada adikku sebab itu aku tidak mau meminta lagi, aku
hanya berharap mereka mempedulikanku sama seperti yang dirasakan adikku atau
anak-anak lainnya. Mereka membuat kesenjangan antara aku dan dia. Saat tas atau
barangku yang lain tidak bisa dipakai saat itu pula di ganti. Kadang mereka
mengeluarkan kata dari mulutnya yang menusuk luka hati ini. Aku tidak tahu lagi
harus bagaimana bercerita. Aku bukan membenci mereka, aku sangat mencintai
kedua orang tuaku. Tapi kesal dan cinta yang besar ini timbul bersamaan.” Aku
tidak dapat menahan air mata, bicaraku pun terbata-bata.
Rahmah
mendengarkanku sangat dalam, ia seperti tidak melewatkan satu kata pun dari
bibirku. Ia seperti merasakan apa yang kurasa.
“liani,
sabarlah. Kau lebih bahagia daripada saya. Jika kau masih tinggal satu atap
dengan orang tua dan saudaramu, saya adalah orang yang diasingkan dari rumah.
Entah kapan mereka akan mengajakku tinggal se rumah, setelah ayahku pergi ibu
menikah dengan lelaki lain, semenjak itu aku merasa jahannam. Aku tinggal
dengan nenek, ibu, ayah dengan pasangannya masing-masing sudah mempunyai anak.
Dan aku dilupakan. Besar sekali kebencian dengan sikap mereka yang seperti ini.
Tapi saya punya tekad yang suatu ketika nanti, mereka akan membuka tangannya
dan menunggu dengan pelukan hangat, pelukan cinta. Kau lebih bahagia
daripadaku. Liani Sayyida”
Aku
sentak dengan ceritanya. Aku berpikir tawanya itu adalah kabahgian, senyumannya
kehangatan, ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Aku tidak apa-apa
dibandingkan dengan dia. Dia menyadarkanku pada arti sebuah senyum. Dan
mengajakku melihat tawa bersama seorang sahabat. Aku seperti memulai hidup,
mencari jati diri di saat remaja ini, dengan seorang sahabat. Sahabatku yang
membuatku mulai mengerti arti persahabatan.
Aceh
Utara, 3 Agustus 2015
Abu
Rahmat nama pena dari Rahmatsyah, S.Pd. Guru di SMAN 1 Matangkuli, Aceh Utara
sumber gambar: Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar