Jumat, 04 September 2015

Stanza Liani


Karya: Abu Rahmat

Aku memang tidak mengerti arti dari sebuah persabahatan, saling bersama berbagi cerita suka duka, susah senang, pagi siang sampai malam. Tiada waktu kecuali saling bersama. Kekeraban dua insan hingga menjadi anak angkat dari keluarga masing-masing. Aku memang tidak mengerti arti dari sebuah persahabatan. Hanya kau yang paham arti itu, kau dan kalian mempunyai sahabat, kau dan kalian memang hebat, mempunyai seorang atau beberapa orang untuk meluahkan kasih bahkan pedih. Sama-samalah berlinang air mata kalian, bukan aku, karena aku memang tidak mengerti arti sebuah persahabatan.
Wajar saja jika sekarang aku tampak seperti orang yang kesepian, ke mana pun sendiri, ke kantin duduk dan sarapan sendiri, saat belajar kelompok aku kerap diacuhkan, wajar saja karena kalian bersahabat dan aku hanya sebatas teman yang boleh dipedulikan serta dianggap tak ada, wajar saja. aku memang tidak mengerti sebuah arti persahabatan, kau dan kalian tidak pernah bertanya padaku, bila ada hal penting saja, apalagi untuk sekedar barbagi sedekar berbagi cerita. Tidak pernah sebab kau dan kalian bukan sahabatku.
Di sini, aku hanya seorang yang singgah, aku tidak berkenalan dengan kau dan kalian dari semenjak kecil, kita berteman saat sudah remaja. Dengan perangaiku yang seperti ini, kalian pun tidak mau mendekat denganku. Jika kau dan kalian tahu bahwa dari semenjak kecil pun aku tidak mempunyai sahabat bahkan seorang pun tidak, kalian tidak akan memahaminya, tidak akan sebab kalian tidak merasakan bagaimana menjadi orang seperti aku.
“hai! saya rahmah, boleh duduk di sini?”
Seorang gadis remaja seumuran denganku datang menghampiri, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya. Mungkin dia anak pindahan juga sama seperti ku, bedanya aku sudah terlebih dahulu berada di sini. Surganya orang bersahabat dan neraka orang kolot yang berasal dari kampun sepertiku. Tapi ia tak tampak seperti orang kampung bahkan jauh lebih modis dari remaja-remaja yang sekolah di sini.
“boleh, aku liani” jawabku agak cuek
“saya baru pindah ke sini, kelasku di ujung tepatnya di kelas XII-IPA-1. “ ucapnya sambil tersenyum kecil.
“tapi aku tidak melihatmu tadi, saya juga kelas itu.” Aku mulai menatapnya.
“setelah jam istirahat ini saya baru memperkenalkan diri, tadi saya baru aja sampai. Ada beberapa yang harus di urus dengan TU sekolah ini.”
Aku hanya mengangguk tanda paham padanya. Tak lama setelah itu, waktu istirahat berakhir. Sungguh membosankan jika harus kembali ke ruangan lebay itu, didalamnya penuh orang-orang alay, sok-sok pintar. Ya, walaupun aku sadar sudah sewajarnya kelas inti penuh dengan siswa pintar tapi menurutku tidak segitunya juga. Jalan harus bersama-sama, buat tugas berkelompok. Ah aku kesal jika tiap terbayang kelas aneh itu. Aku malah iri dengan kelas IPS, menurutku mereka itu asik, berandal, kalau boleh aku ingin sekali pindah kelas, tapi apa mau di kata, orang tuaku sudah duluan meminta kepada kepala sekolah agar aku ditempatkan di kelas inti “disekolah lama kamu itu selalu mendapat rangking 1, jadi di sini kamu harus duduk di kelas inti dan rajin belajar.” Dasar orang tua suka seenaknya, mengapa aku tidak bisa memilih jalanku sendiri? Aku seperti hewan ternak yang tidak diikat juga tidak boleh dilepaskan. Apa maunya mereka? Pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya mengikuti di kepala ini. Ah sial! Gara-gara itu hari ini aku lagi-lagi tidak bisa belajar. Seribu pertanyaan dan penyataan ini sudah terlalu lama terpendam dalam hati, ingin sekali bercerita, tapi siapa pula yang akan mengerti?.
“liani, nanti pulang bareng ya!” tiba-tiba rahmah menghampiri saat mata pelajaran terakhir akan segera usai.
“oke, liat dulu ya!”
“siiip dah!”
Sudah satu minggu anak baru itu sekolah di sini, sudah satu minggu pula aku ditegur dan diajaknya pulang bersama, setiap hari pula dia hanya tertarik mengajak bicara denganku, padahal anak-anak lain ramai yang mendekatinya. Dasar anak-anak aneh, mentang-mentang si rahmah anak orang yang sedikit berpunya bisanya kalian ingin bersahabat dengan dia, padahal aku sudah terlebih dahulu sekolah di sini, kenapa aku dicuekin? Pertanyaan bodoh lagi-lagi timbul dikepalaku.
Dua hari aku tidak masuk sekolah karena deman meradang tubuhku, selama itu pula aku harus berdiam di rumah, rumah yang lebih kurang seperti kandang ayam ini, ada atau tiadanya orang sama-sama, ibu dan ayahku sibuk dengan pekerjaannya. Aku ditinggalkan pada orang lain.
“liani, ini aku rahmah. Kenapa dua hari ini kamu tidak masuk sekolah?” sebuah pesan singkat masuk ke hp-ku. Untuk apa kubalas, tidak penting rasanya. Dia paling Cuma basa-basi padahal aku sudah mengirim surat ke sekolah bahwa aku tidak bisa masuk sekolah. Kuletakkan kembali hp-ku yang sepi itu di atas meja kecil. Kupikir apa gunanya hp ini, tidak yang menelponku walau sekedar basa-basi. Kalau pun ada saat ada perlunya saja.
Aku sudah tidak betah berada di rumah, kuputuskan hari ini aku harus sekolah, lebih baik di sana daripada di sini walaupun sejatinya sama saja. setidaknya ada yang bisa kulihat di sana. Seluruh tubuhnya terasa letih, aku belum terlalu sehat. Tapi kalau berada di rumah mungkin aku akan bertambah sakit. Aku segera bergegas siap-siap sekolah, mencari kunci motor matic yang sudah dua hari hanya berdiam di garasi rumah.
Pintu gerbang sekolah hampir saja di tutup, aku tiba di detik-detik terakhir, bel tanda masuk berbunyi bersamaan dengan ban depan motorku menabrak sedikit pintu gerbang sekolah. “bang! Jangan tutup dulu, ini kan belum dikunti, aku pun Cuma telat tiga detik. Tolong buka lebih lapang sedikit pintunya.” Pintaku pada satpam yang sudah kenal dekat denganku, sekalipun kami tidak terlalu akrab tapi kadang-kadang aku mencarinya untuk seksedar lelucon tidak penting darinya.
Di depan pintu ruangan rahmah sudah berdiri, entah kebeltulan atau tidak, ia berhadapan denganku tak lupa rahmah tersenyum. “hai” sapanya sambil tersenyum. Kubalas pula dengan senyuman tipis dariku. Waktu berlalu begitu saja, bosan meradang lahir batin, rahmah yang biasanya suka tiba-tiba hadir didepanku tampak asik dengan kawan-kawan lain. Kenapa harus aku memikirkan dia? Padahal aku cuek-cuek saja sama dia. Kutepis perasaan aneh ini.
“liani, nanti pulang bareng ya!.” Akhirya rahmah menghampiriku secara tiba-tiba dan sepertinya aku kaget, memang kesal tapi aku jadi rindu dengan kelakuannya walaupun membuatku kesal.
“baiklah, kamu pulangnya buru-buru gak? Aku mau ajak kamu makan siang di resto desbaro. Kamu mau?” jawabku seraya memintanya ikut menemaniku makan siang dan ada yang ingin kutanyakan padanya.
“wah, boleh banget tu. Sudah lama aku menunggu ajakan darimu. Nanti biar aku saja yang traktir ya!” serunya lagi, tapi aku menolak karena aku yang mengajak dia, bukan sebaliknya.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, rahmah sesegera mungkin datang padaku dan langsung mengajak ke tempat ajakanku tadi. Dasar gadis aneh, aku heran dengannya. Setiap hari dia tampak ceria aja, apa dia tidak punya beban apa-apa dikepalanya. Sungguh anak beruntung. Kalau bisa, aku ingin sekali seperti dia. Ah sudahlah. Kami pun bergegas menuju parkiran motor kami segera berangkat dengan kendaraan masing-masing ke tempat tujuan. Tidak ada pembicaraan apa-apa selama perjalanan sampai di resto desbaro.
Setelah memesan pesanan masing-masing ia mulai berbincang denganku, rahmah lebih banyak bercerita tentang masa di sekolahnya yang dulu. Aku hanya menjadi pendengar budiman sesekali kuanggukkan kepala, padahal aku tidak terlalu mengerti apa yang dia ceritakan karena dikepalaku lebih banyak kata-kata yang terpendam tapi aku enggan untuk bercerita. Pengalaman mengajarkanku untuk tidak bersahabat, aku kebalikan dari mereka.
“boleh aku bertanya, rahmah?” aku membuka bahasan baru.
“iya, silakan” sahutnya seraya tersenyum.
“entahlah ini benar atau tidak. kau ini menyenangkan ya, setiap hari penuh dengan keceriaan. Jarang aku menlihatmu bersedih. Kau tampak bahagia, banyak teman sekolah yang mendekatimu, tapi kamu malah aneh mendekatiku. Apa kau tidak salah memilih teman?.”
“hehe” tawa kecilnya sebelum melanjutkan pada aksara berikutnya, tawa yang membuatku sedikit kesal. Selalu saja begitu.
“liani, kau ini mengingatkanku pada sahabatku yang dulu. Bukan hanya sifatmu dengannya yang hampir sama, wajah kau dengannya juga agak miripan. Kau salah jika menilaiku seorang yang bahagia, beberapa kali aku melihatmu di antar oleh orang tuamu, sedangkan aku, apa kau pernah melihat aku diantar oleh kedua orang tua?. Aku tidak pernah memilih dalam hal pertemanan, walaupun kau lihat banyak anak-anak disekolah yang mendekatiku, aku lebih memilih kamu. Berteman denganmu membuatku lebih nyaman. Bukan dengan mereka.”
Perkataannya membuatku mulai luluh “ apa kemiripan antara aku dan sahabat lamamu itu? Sekarang dia di mana?” tanyaku penasaran.
“kalian itu sama-sama mempunyai bentuk wajah yang agak lonjong tapi bulat, pipi dan hidung kalian agak bulat. Hehe!!. Sekarang ia sudah pulang, lia” rahmah mulai murung, matanya memerah, disela kelopak matanya air mengalir tetes-pertetes.
“pulang ke mana?, ke kampungnya?” tanyaku lagi.
“bukan, kembali pada Tuhan. Ia menderita penyakit kangker. Kau tau liani yang membuatku sangat bersedih itu ketika aku tahu sahabatku sakit di saat terakhirnya. Aku lupa mendengar kisah darinya karena dia sibuk dengan kisahku. Aku berpikir tidak akan menemukan orang seperti dia, tapi kau seperti dia, penganti dirinya. Aku tidak sedih saat kau cuek padaku, acuh, atau lainnya karena kau tidak menyembunyikan apa-apa, sedang yang kulihat dari teman-teman yang lain, mereka mendekatiku seperti ada maksud tertentu”. Jelas rahmah dengan air mata yang terus berderai. Aku pun tidak dapat menahan kesedihan lagi.
“liani, aku tidak tahu masalah apa yang terpendam dalam hatimu, tapi, dari sikapmu selama kita satu kelas, kau seperti menyimpan banyak masalah dan sikap tertutupmu menampkkan sekali kalau kau tidak suka bercerita pada orang.”
“benar katamu rahmah, kalau kau pernah merasakan indahnya persahabat, aku bisa dikatakan tidak sama sekali. Kupendam segala kesal di lubuk hati, tak kuceritakan sebab tak ada yang mau mendengar dan kali ini aku ingin bercerita padamu. Kau tahu bagaimana rasanya jadi seorang anak yang selalu dilihat tapi tidak pernah tampak?, sangat menyakitkan liani. Aku sakit tidak pernah di tanya oleh orang tuaku, kecuali jika sakitku sudah parah, saat itu mereka sibuk. Tasku rusak, mereka pun Cuma lihat saja, dulu aku sering meminta tapi mereka lebih banyak memberi kepada adikku sebab itu aku tidak mau meminta lagi, aku hanya berharap mereka mempedulikanku sama seperti yang dirasakan adikku atau anak-anak lainnya. Mereka membuat kesenjangan antara aku dan dia. Saat tas atau barangku yang lain tidak bisa dipakai saat itu pula di ganti. Kadang mereka mengeluarkan kata dari mulutnya yang menusuk luka hati ini. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana bercerita. Aku bukan membenci mereka, aku sangat mencintai kedua orang tuaku. Tapi kesal dan cinta yang besar ini timbul bersamaan.” Aku tidak dapat menahan air mata, bicaraku pun terbata-bata.
Rahmah mendengarkanku sangat dalam, ia seperti tidak melewatkan satu kata pun dari bibirku. Ia seperti merasakan apa yang kurasa.
“liani, sabarlah. Kau lebih bahagia daripada saya. Jika kau masih tinggal satu atap dengan orang tua dan saudaramu, saya adalah orang yang diasingkan dari rumah. Entah kapan mereka akan mengajakku tinggal se rumah, setelah ayahku pergi ibu menikah dengan lelaki lain, semenjak itu aku merasa jahannam. Aku tinggal dengan nenek, ibu, ayah dengan pasangannya masing-masing sudah mempunyai anak. Dan aku dilupakan. Besar sekali kebencian dengan sikap mereka yang seperti ini. Tapi saya punya tekad yang suatu ketika nanti, mereka akan membuka tangannya dan menunggu dengan pelukan hangat, pelukan cinta. Kau lebih bahagia daripadaku. Liani Sayyida”
Aku sentak dengan ceritanya. Aku berpikir tawanya itu adalah kabahgian, senyumannya kehangatan, ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Aku tidak apa-apa dibandingkan dengan dia. Dia menyadarkanku pada arti sebuah senyum. Dan mengajakku melihat tawa bersama seorang sahabat. Aku seperti memulai hidup, mencari jati diri di saat remaja ini, dengan seorang sahabat. Sahabatku yang membuatku mulai mengerti arti persahabatan.

Aceh Utara, 3 Agustus 2015

Abu Rahmat nama pena dari Rahmatsyah, S.Pd. Guru di SMAN 1 Matangkuli, Aceh Utara

sumber gambar: Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar