Jumat, 02 Mei 2014

Rindu telah pergi atau kembali, mungkin rindu baru telah hadir

Saya telah membaca tulisan anda, saya berpikir sebagian dari yang anda tuliskan (mungkin) tentang saya, cinta, rindu, marah bahkan ungkapan kebencian, sekalipun engkau berkata tidak, saya sudah membacanya, saya merasa bahagia anda mengungkapnya, mungkin ‘gr’ yang saya rasakan tersebut adalah alami bukan dibuat-buat atau lainnya. Anda tahu, setiap waktunya saya sangat ingin tahu apa yang sedang anda kerjakan, apa kata hati anda saat ini, apakah dikau rindu atau benci kepadaku. Semenjak hari itu hingga kini.

Yang dirindu apakah cukup itu saja atau lebih, mulai dari sini; hati, sepaham tulisan singkat dan tak seindah syairan pujangga ini akan sedikit daku ceritakan. Rindu telah pergi atau kembali, mungkin rindu baru telah hadir, apapun dan siapapun yang merasakan rasa itu adalah kamu (aku) bukan insan lain, cukup dirimu (aku) saja yang tahu bukan orang lain.

Sebelum ini, saya pernah hendak keluar dari drama yang tidak jelas terjadi, kisah yang aku mulai sendiri dan kemudian kesakitan meradang begitu parah. Saat itu kesakitan, tiada yang megenyangkan atau sekedar menikmati senyuman. Hari itu menjadi berubah sekali, ketika harus terjatuh di atas panggung yang aku dirikan sendiri, ketika aku lupa pada naskah yang sudah dihafal jauh-jauh hari sebelum semuanya menjadi rusak, kita memilih jalan masing-masing. Entah untuk kemudian kembali atau tidak bertemu lagi. Aku rasa cukup sampai di sini.

Aku mungkin benar-benar telah pergi dari panggung itu, atau mungkin aku tak ingin lagi mencoba rindu, lebih dari itu, semua yang jadi bagian dari kenangan harus terhapus, aku benci kebahagiaan, cukup hari ini saja, aku siap untuk pergi. Saban waktu aku melakukannya, tapi ini mejadi semakin rumit, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bahkan berbulan-bulan, aku sakit pada penyakit yang sama.

Yang aku harap adalah tiada kebencian, namun itu telah benar-benar terjadi saat itu. Semakin rumit, aku pergi, tapi ada saja yang datang di tengah perjalanan, hingga pada akhirnya aku lelah “biarlah semua terjadi dengan sendirinya, biarlah kisah ini mengalir seperti air, aku tak akan lagi mengubah alur atau latar yang sudah di buat oleh Sang Maha Pencipta.

Ya, aku harus kembali pada apa yang hendak akan kuceritakan “rindu, apakah telah hilang, kembali hadir, atau rindu baru muncul. Kemudian, ketika kelelahan dan sabar mencapai batasnya aku kecewa lebih dari itu putus asa. Aku tidak bisa peduli apa yang akan terjadi. Seperti ini, aku senang dapat sekedar merindukanmu, mencintaimu, bahkan aku selalu berharap engkau mengatakan “aku juga mencintaimu”, selalu dalam harapan.

Bagaiamanapun saya bercerita tentang rindu, mungkin tak akan seperti paham yang anda artikan, kita punya pengertian tersendiri tentang rindu. aku merindukanmu, kuharap engkau pun begitu. Maaf, jika rinduku selama ini salah, aku hanya seorang insan yang juga ingin berubah, menjadi lebih baik, jika nanti (atau sekarang) aku pergi itu hanya sejenak, pertanda aku butuh waktu untuk lahir menjadi seorang yang baru, dan aku akan berusaha kembali, hingga kau benar yakin, lama atau tidak saya tak akan mengetahui perihal qalbu ini, Allah Yang Maha Menggerakkan hati, saya hanya menerima dan bersyukur. Terima kasih, setelah menyudahi tulisan ini bukan berarti aku berhenti, namun tetap melanjutkan langkah.

(S&N)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar