Kamis, 06 Februari 2014

Seuntai Diari IV

Perjalan sampai, temanku akan segera besanding dengan pangerannya. Betapa kebahagian menyaksikan cinta sesungguhnya. Aku tak akan melewatkan momen tersebut walau harus tidak ikut serta dalam perlombaan sebab harapan untuk menang tak terbesit dalam hati. Subuh sejuk bertamu, wajah-wajah riang menebar sekitar halaman rumah, mereka adalah orang-orang yang sedang dipenuhi riang.
 
Memang tidak berharap menang, tapi demi kesopanan aku membalas pesan singkat tersebut “maaf saya sedang di luar kota, jadi tidak bisa hadir dalam acara tersebut” dengan segera mereka membalas “sebenarnya ini rahasia panitia, karena anda tidak sedang di tempat maka kami beritahukan kalau anda adalah salah satu pemenang lomba tulis puisi”. Kabar gembira untukku, padahal jika teringat dari awal daftar hingga penyerahan naskah aku adalah seorang peserta ‘bandel’, tapi alhamdulillah juga bisa menang, piala pertama dan pandangan pertama.
 
Sore itu aku kembali ke kota, rumah rantau. Waktu terus berlalu, aku lupa bahwa pernah melihat bidadari, mungkin sebab niat awal “jika ia jodohku, kami akan bertemu. Ia akan beri pertanda”. Sekejab jejaki ruas jalan kampus menuju kantin, tidak sengaja melihat satu arah seseorang tersenyum cantik sekali “sepertinya aku pernah lihat ia” gumam dalam hati, lama berpikir dan ternyata dia ialah si bidadari yang belum aku kenal namanya. Ah, biarlah. Aku takut salah kaprah.
 
Hari-hari terus berputar, mulai dari senyuman di kantin aku terus teringat si bidadari. Berhari-hari sampai satu minggu lebih ia muncul lagi, dengan khasnya sebuah senyum cantik ia bagi dan berlalu, aku menghitung waktu. Berbulan, “ternyata sudah lama aku menyukainya” sampai akhir semester aku terbiasa dengan keadaan.
 
Libur kuliah hingga mahasiswa mulai aktif, saat itu masa orientasi mahasiswa baru, aku sudah banyak lupa tentang cinta lamaku, sebab kesibukan mencoba tidak larut dalam hal apapun, aku terus sibuk dan sibuk, banyak hal yang terjadi. Agustus, September, Oktober, dan November ia muncul lagi,
Ini adalah awal dari “mencoba mengenali hingga hati”.

Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar