Kau, ialah titipan sementara padaku. Bukan hendak mempermainkan sebuah perasaan atau kata-kata dibeberkan begitu saja untuk asa yang kembali hinggap pada kemampuan yang seperti sudah mati, semua diawali dengan keindahan, kebahagiaan, dan semua akan berakhir dengan air mata, namun air mata tersebut terbagi pada dua (1) maut bertamu untuk memisahkan (2) percakapan dalam amarah yang meraja. Ini sungguh berat, menanti hati itu bukan seperti memainkan kecapi, bukan bagai menunggu perjalanan panjang, bukan bak menunggu seseorang yang ditunggu, tapi adalah menanti hati seperti menunggu sinar yang tak tahu kapan ia kan datang.
Dalam setiap saja yang tercipta adalah bayanganmu yang membuat karya tersebut indah, “kamu, ialah bak embun yang kunantikan hingga pagi, setelah ufuk merah menyapa datanglah ia kehangatan sepertimu menghangatkan kesejukan amarah ini, kita acap berkata “berawal dari hati, cinta jua letaknya dihati” untuaian kata-kata itu selalu hidup pada jiwa pengecut ini. Mungkin aku tak bias indah seperti harapan seseorang, karena aku bukanlah keindahan yang tercipta namun dirimulah keindahan yang dititipkan untuk menemani hati yang gelap ini.
Awal saja pengawalan kisah ini, aku-kamu pernah meminta merobeknya, kita saling mempertahankan itu pada mulanya, amarah semakin memuncak hingga ucapan yang tak pernah diharapkan telah hadir, belum ada kehebatan bagiku menerimanya, aku kalah. Kekalahan pada cinta yang kuciptakan sendiri. Penantiaku selalu ada, bahkan aku akan tetap mencoba menghidupkanmu dalam nyata dan mimpi. Aku menanti kerinduanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar